Aktualisasi Saleh Pribadi dan Sosial .:. Oleh: Asef Umar Fakhruddin

Kita sedang menjalani ibadah puasa Ramadan dan ini akan berlangsung sebulan penuh. Jika sejak awal Ramadan kita selalu melaksanakan salat Tarawih, misalnya dengan jumlah rakaat setiap malam 11 rakaat, kita akan menunaikan salat Tarawih lebih dari 300 rakaat. Belum lagi jika kita salat dengan 23 rakaat. Jumlah itu akan bertambah jika ditambahkan dengan jumlah rakaat salat wajib dan rawatib yang lain. Sungguh jumlah rakaat yang sangat banyak dan fantastis. Pertanyaannya, sejauh mana kita memahami esensi puasa Ramadan? Bagaimana implikasinya terhadap perilaku kita selama pelaksanaan ibadah Ramadan tersebut dan setelahnya?

Pertanyaan tersebut sangat penting diajukan. Pasalnya, banyak di antara kita yang melakukan puasa sekadar menahan makan, minum, dan -bagi yang sudah menikah- tidak melakukan hubungan badan. Jika beberapa hal itu saja yang dijadikan “bagian dalam” puasa, sebenarnya esensi puasa telah tersumirkan, bahkan mungkin telah tercerabut.

Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan terhadap paradigma kita dalam memaknai ibadah puasa. Pada hakikatnya, ibadah puasa bukan hanya menahan beberapa hal di atas. Akan tetapi, puasa juga mengajarkan kita untuk senantiasa menjadikan saleh ritual sebagai agenda dan tujuan utama. Pendek kata, puasa Ramadan harus berimplikasi positif terhadap diri dan kehidupan.

Konsepsi keliru terhadap puasa lebih banyak disebabkan paradigma parsial dalam memahami puasa tersebut. Hal itu diperparah minimnya pembahasan atau kajian mendalam tentang puasa. Padahal, jika mampu menangkap semburat makna dari puasa, kita tidak akan rela pergi dari bulan Ramadan. Kita ingin agar setiap bulan adalah Ramadan.

Harmonisasi Kesalehan
Pembakaran atau membakar merupakan makna leksikal dari Ramadan. Jika ditelusuri lebih dalam, makna membakar di sini bermakna membakar egoisitas dan sikap individualistis yang selama ini menempeli diri kita. Di samping itu, puasa Ramadan, selain membakar ego negatif kita, mengajarkan untuk mengamalkan sikap bajik atas pemaknaan kita terhadap kehidupan.

Allah pun dengan tegas menyatakan bahwa kita dituntut untuk menyeimbangkan antara saleh sosial dan saleh ritual. Tidak dibenarkan apabila kita hanya duduk manis di masjid dan tak acuh terhadap perkembangan sosial. Begitu juga, kita dilarang hanya mementingkan urusan-urusan dunia, kemudian kita tanggal-tinggalkan ibadah kepada Allah.

Puasa Ramadan mengajarkan untuk menggabungkan kedua kesalehan tersebut. Sebagai umat Islam yang berakal -sebagaimana perintah puasa ini ditujukan, yaitu kepada orang-orang yang beriman, dan tentunya berakal. Sebab, yang tidak berakal tidak mendapatkan kewajiban menjalankan puasa sampai dia sadar- kita harus menjalankan ibadah puasa dengan maksimal.

Aktualisasi Diri
Momentum puasa Ramadan harus dijadikan pelecut untuk membangun pribadi yang mampu menjadikan kehidupan sebagai pranata menyapa “keindahan” Tuhan. Esensi puasa adalah melebur-hancurkankan egoisme -meminjam perkataan Karen Armstrong, peneliti agama-agama dunia dalam salah satu buku terbarunya, The Great Transformation (2007)- kemudian menggantinya dengan sikap welas asih dan demokratis.

Konsep puasa yang hanya memperhatikan aspek menahan diri dari makan, minum, dan hubungan badan sebenarnya merupakan muasal gagalnya ibadah puasa. Puasa Ramadan harus menjadi titik awal untuk melakukan perubahan. Jika pada bulan-bulan yang lalu kita melakukan banyak kesalahan, momentum bulan suci Ramadan bisa dijadikan titik balik melakukan perubahan. Di dalamnya, kita diajak untuk senantiasa melakukan aktualisasi diri, baik untuk pribadi, sesama manusia, maupun kepada Allah.
Ajakan untuk mengaktualisasikan diri itu tecermin dengan perintah memperbanyak sedekah dan doa. Dengan banyaknya bencana yang menyapa bangsa ini, doa dan sedekah semakin menemukan aksentuasi. Jika sedekah itudimaksimalkan, penderitaan saudara-saudara kita bisa teratasi.

Akan tetapi, pelajaran berupa ajakan untuk mengamalkan saleh sosial dan saleh ritual tidak cukup hanya dalam perbincangan. Mungkin itu pula yang membuat negara dan bangsa ini belum bisa bangkit menuju kemajuan.

Kita, para pemimpin, elite politik, dan pemegang kekuasaan sibuk beretorika dengan muluk, namun miskin aksi. Padahal, yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan adalah kerja keras dan kesungguhan, demikian kata Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu.

Negara-bangsa ini tidak butuh hanya dengan jibunan teori, tetapi praktik dari teori itulah yang terpenting. Puasa Ramadan mengajarkan aktualisasi tersebut, yaitu mengajarkan untuk tidak hanya mengasah kesalehan spiritual atau pribadi, melainkan juga kesalehan sosial dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan puasa dalam keseharian. Di antaranya, gemar membantu, toleransi, suka berdialog, dan menjaga kerukunan.

Puasa yang kemudian melahirkan paradigma dan perilaku saleh ritual dan sosial merupakan salah satu anima mundi (ruh dunia). Saleh sosial dan ritual merupakan bentuk dari ketakwaan. Dan, inilah tujuan utama diperintahkannya puasa, yaitu menjadi seorang muslim yang bertakwa (surat al-Baqarah [2]: 183). Semoga kita mampu sampai pada derajat takwa sebagaimana harapan Allah.

Penulis:  mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s