Perairan Timur, Potensi Besar Budidaya Mutiara

Indonesia saat ini telah menghasilkan South Sea Pearl dari kerang Pinctada maxima dari hasil alam maupun budidaya. Sentra pengembangan budidaya Pinctada maxima tersebar di beberapa daerah seperti : Lampung, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

South Sea Pearl Indonesia sangat digemari di pasar dunia, dan biasanya dijual dalam bentuk loose dan jewelry (perhiasan). Pemasaran untuk mutiara loose biasanya dilakukan melalui lelang (auction) baik di dalam maupun di luar negeri.

Selain kerang jenis Pinctada maxima, kerang mutiara lainnya yang dapat dibudidayakan di Indonesia adalah Pinctada margaritifera, Pinctada fucata, Pinctada lentiginosa dan Pteria penguin. Budidaya mutiara dapat terselenggara hanya pada lingkungan perairan yang bersih dan tenang. Jadi budidaya mutiara, selain hasil yang diperoleh cukup tinggi maka secara otomatis akan menjaga kualitas perairan laut.

South Sea Pearl diproduksi oleh beberapa negara. Karenanya untuk memberikan nilai tambah diperlukan promosi khusus keunikan mutiara Indonesia disertai dukungan Letter of Authencity yang terakreditasi. Beberapa pelaku usaha mutiara Indonesia yang bergerak dalam usaha budidaya termasuk pemasarannya telah tergabung dalam Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (ASBUMI). Sebagai organisasi yang mewadahi para pengusaha budidaya mutiara di Indonesia, keberadaan ASBUMI sangat penting dan sebagai fasilitator dalam upaya pengembangan budidaya dan pemasaran mutiara Indonesia.

Menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan Sultra, potensi areal untuk pengembangan budidaya kerang mutiara di wilayah ini mencapai 6.600 hektare. Ironisnya, tingkat pemanfaatan baru sekitar 1.595 hektare. Di perairan timur Indonesia, potensi untuk bisnis budidaya mutiara yang sangat besar.  Bukan hanya pada ketersediaan lahan saja, tetapi juga lingkungan perairan yang memenuhi syarat untuk tumbuh dan berkembangnya kerang mutiara secara optimal.  Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa tempat yang memenuhi syarat sekaligus menjadi sentra produksi mutiara, seperti NTB, Maluku, Sultra dan Papua.

Mutiara asal Indonesia sudah cukup lama dikenal oleh pasaran dunia.  South Sea Pearl (mutiara laut selatan), demikian nama jenis mutiara yang dihasilkan Indonesia. Sebagaimana dipaparkan Martono, Sekretaris Eksekutif ASBUMI. Mutiara jenis ini merupakan jenis yang cukup diminati para pecinta mutiara baik di Asia maupun Eropa.

Hal yang terpenting dalam bisnis ini adalah meningkatkan kualitas mutiara, sebab semakin bagus kualitasnya semakin tinggi harganya.  Menurut Martono, harga mutiara Indonesia masih kalah dengan mutiara asal Australia meskipun jenis yang dihasilkan sama yaitu South Sea Pearl.  Secara kuantitas Indonesia merupakan penghasil terbesar mutiara jenis South Sea Pearl, tetapi harga per-gramnya kalah dengan Australia.

Meskipun memerlukan modal yang cukup besar, bisnis mutiara ini tetap menarik minat para pemodal. Menurut Iwan Kiswan, Direktur CV. Laksana Abdi Bahari, untuk memulai bisnis budidaya mutiara dibutuhkan investasi sedikitnya Rp 2 miliar. “Dalam bisnis ini,  keuletan dan kesabaran yang terpenting, karena bisnis ini jangka panjang, paling tidak butuh waktu 4 tahun untuk sampai pada masa panen,” jelasnya.

Waktu 4 tahun tersebut menurut Iwan, digunakan untuk menganalisis lokasi budidaya selama 1 tahun, pembesaran benih kerang mutiara sampai pada ukuran insersi (memasukkan benda asing ke dalam kerang mutiara) selama 16 bulan dan menunggu hingga mutiara siap dipanen selama 20 bulan.  Martono menambahkan, “Jika panen, biasanya dapat dihasilkan sekitar 10 kg mutiara”. Bisa dibayangkan, jika harga rata-rata mutiara 40 US$ per gram, pengusaha mutiara akan memperoleh hasil produksi sebesar Rp 3,6 miliar.

Ditanya mengenai peluang pasar, dia tetap optimis.  “Saat ini mutiara asal Indonesia biasanya dilelang di pasar Jepang dan Hongkong. Tetapi pasar Eropa juga sudah melirik mutiara asal Indonesia,” katanya. “Berapa pun mutiara yang kita hasilkan biasanya pasti akan terserap oleh pasar. Selain itu pasar lokal Indonesia juga cukup menjanjikan. Biasanya para pembeli langsung melakukan kontak dengan perusahaan mutiara,” tambah Iwan.

Kerang Mutiara
Berdasarkan sejarah, mutiara dulunya hanya digunakan oleh kaum bangsawan sebagai simbol kekuasaan, kekayaan dan keanggunan. Hingga sekarang, perhiasan anggota kerajaan Inggris pada acara resmi adalah mutiara.

Kini mutiara masih digunakan sebagai simbol keanggunan dan kekayaan, pemakainya tidak terbatas hanya di kalangan kaum bangsawan tetapi sudah merambah sampai ke masyarakat umum.

Umumnya mutiara terbagi dalam 2 (dua) jenis yaitu mutiara alami dan hasil budidaya. Dalam proses pembentukan mutiara diperlukan zat pengganggu seperti misalnya suatu potongan jaringan/tisu yang dimasukkan ke dalam kerang-kerangan seperti oyster/mollusk. Sebagai upaya perlindungan, secara otomatis kerang-kerangan tersebut akan melapisi zat pengganggu yang masuk tersebut dengan lapisan nacre yang pada akhirnya akan menghasilkan mutiara. Untuk menghasilkan mutiara budidaya, zat pengganggu yang dimaksud secara sengaja dimasukkan ke dalam kerang-kerangan melalui proses pembedahan.

Mutiara alami saat ini sudah mulai jarang ditemukan sehingga harganya sangat mahal. Jenis yang sering diperdagangkan adalah mutiara hasil budidaya seperti mutiara Akoya, mutiara Tahiti, South Sea Pearl dan mutiara air tawar yang banyak terdapat di Jepang dan Cina.

Selain mutiara hasil budidaya, saat ini banyak dijumpai mutiara imitasi yang benar-benar merupakan hasil buatan tangan manusia yang dibuat dari keramik, kulit/kerang, gelas/kaca atau bahkan plastik. Mutiara imitasi bukan termasuk jenis mutiara, tetapi karena teknik pembuatan pabrikasi saat ini sudah begitu maju, sehingga kadang terlihat sempurna seperti mutiara asli. Salah satu cara termudah untuk membedakan mutiara imitasi dengan mutiara asli adalah dengan menggesekkan mutiara tersebut ke ujung gigi. Apabila terasa lembut, maka dipastikan itu adalah mutiara imitasi. Sementara apabila ketika digesekkan terasa berpasir, bahkan kadang terasa ngilu, maka itulah mutiara asli karena berkaitan dengan keberadaan lapisan nacre.

Menurut Iwan Kiswan, ada beberapa cara untuk dapat menentukan kualitas mutiara. Pertama adalah; Kilauan. Indicator ini merupakan kemampuan mutiara untuk memantulkan kembali sinar yang mengenai permukaan mutiara. Kilauan muncul sebagai perpaduan dari 2 hal yaitu brilliance/kejernihan (cara permukaan memantulkan cahaya) dan inner glow (pantulan cahaya dari dalam).

Derajat kilauan suatu mutiara berkaitan dengan keberadaan lapisan nacre, yang merupakan kandungan alamiah yang dikeluarkan kerang mutiara di dalam melindungi inti. Semakin tebal nacre yang dihasilkan, maka mutiara yang dihasilkan akan lebih berkilau. Tingkatan dalam penilaian kilauan mutiara adalah : tinggi, sedang, dan rendah. Mutiara dengan kilauan yang tinggi akan menghasilkan kilauan yang terang dan mempunyai pancaran cahaya yang kuat sehingga dapat memantulkan obyek didekatnya dengan jelas.

Kedua, adalah kondisi permukaan mutiara. Dalam pembentukan mutiara, lapisan nacre yang dihasilkan oleh kekerangan tidak selalu melekat dengan lembut. Kadang-kadang dalam prosesnya timbul noda dan gelembung yang tampak pada permukaan mutiara. Kondisi permukaan mutiara ini biasanya dinilai dalam tingkatan bersih mulus hingga cacat. Semakin mulus kondisi permukaan mutiara, maka semakin tinggi kualitasnya.

Cara ketiga, dapat dilihat dari segi bentuknya, mutiara dikelompokkan menjadi 8 kategori yaitu: round (bulat), drop (tetesan), button (kancing), oval, semi-round (semi bulat), circle/ring (lingkaran), baroque (tidak beraturan) dan semi-baroque. Secara umum, semakin bulat bentuk suatu mutiara, maka semakin tinggi nilainya. Namun mutiara berbentuk bulat sempurna sangat jarang ditemui. Dengan keunikannya, kadangkala mutiara berbentuk baroque juga dapat senilai dan setingkat dengan mutiara bulat.

Keempat adalah warnanya. Warna mutiara merupakan warna badan mutiara sehingga warna mutiara sangat ditentukan oleh jenis kerangnya. Warna setiap mutiara sangat khas seperti putih, krem, kuning, merah muda, perak atau hitam. Meski demikian, suatu mutiara juga mempunyai warna sekunder atau overtone, yang terlihat sebagai pantulan warna lain yang terlihat dari mulai yang sedang, sangat tipis atau sangat kuat pada permukaan mutiara. Sebagai contoh, suatu mutiara yang mempunyai warna khas putih, pada saat diuji warna secara lebih detail, terdapat warna tambahan metah muda yang cukup nyata.

Kelima adalah; Ukuran mutiara, mulai dari diameter besarnya mutiara, yang diukur dalam satuan milimeter. Kisaran ukuran mutiara adalah dari 1 mm sampai lebih dari 20 mm. Besaran ukuran ini sangat tergantung pada jenis mutiaranya. Ukuran yang paling umum diperdagangkan adalah 7 – 7.5 mm. Meskipun ukuran bukan merupakan indikator kualitas, namun ukuran menjadi salah satu faktor penentu harga. Semakin besar diameter mutiara, maka semakin tinggi mutu dan harganya. Apabila suatu mutiara memiliki kualitas untuk ke-4 faktor lainnya adalah setara, maka mutiara dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki harga yang lebih mahal.

Untuk meningkatkan nilai tambah, mutiara dalam bentuk “loose” umumnya dikembangkan dalam bentuk “jewelry” atau menjadi bahan perhiasan yang kadangkala dikombinasikan dengan benda-benda berharga lainnya seperti emas, perak, berlian, intan dan lain-lain. Bentuk perhiasan yang dihasilkan diantaranya mahkota, kalung, gelang, cincin, bros, jepitan dasi dan Iain-lain.

Dalam perdagangan internasional, kalung mutiara dengan berbagai ukurannya memiliki istilah-istilah tersendiri seperti choker, collar, matinee, opera, princess dan rope. Istilah-istilah tersebut digunakan khususnya untuk kalung mutiara yang berasal dari butiran mutiara yang seragam.

Dari usaha budidaya mutiara, diperoleh pula hasil sampingan yang bernilai cukup tinggi yaitu kulit kerangnya sebagai bahan perhiasan yang mahal harganya serta dagingnya setelah tidak berproduksi dapat dikonsumsi dengan nilai jual tinggi. (abdul saban)

3 thoughts on “Perairan Timur, Potensi Besar Budidaya Mutiara

  1. KEMANA MENJUAL MUTIARA YA,NI KITA ADA MUTIARA ALAMI TIDAK HASIL PENANGKARAN DARI KALIMANTAN???????????MAKASIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s