Batasi Konsumsi, Obat Sakit Kepala .:. Pemakaian Jangka Panjang Berbahaya, apalagi Melebihi Dosis

Obat sakit kepala banyak sekali dijual bebas belakangan. Tanpa resep dokter, masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan dan mengonsumsi obat tersebut sewaktu-waktu. Yang perlu diingat, kemudahan itu bisa mengakibatkan terjadinya kesalahan penggunaan obat (miss used). Bila kondisi tersebut terjadi dalam jangka panjang, efeknya bisa berbahaya.

Umumnya, obat sakit kepala yang beredar di pasaran menggunakan bahan analgesik (penghilang nyeri), seperti parasetamol dan ibuprofen. Menurut Dr Suharjono MS Apt dari Unit Layanan Informasi Obat Fakultas Farmasi Unair, dua bahan itu merupakan analgesik jenis ringan, aman dikonsumsi, cepat diserap tubuh, dan segera menghalau nyeri. ”Parasetamol hanya membutuhkan 15 menit untuk diserap tubuh,” tutur pria yang juga kepala Departemen Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Unair tersebut.

Sebagai pereda nyeri, dua bahan itu bisa dimanfaatkan secara terpisah, digunakan bersamaan (parasetamol plus ibuprofen), atau dikombinasikan bersama bahan lain. Parasetamol kerap dikombinasikan dengan kafein. Bahan itu berguna untuk meningkatkan stamina parasetamol.

Cara kerja parasetamol dan ibuprofen berbeda. Parasetamol bekerja di hipotalamus (otak kecil), bagian otak yang mengatur suhu tubuh sekaligus rasa sakit. Sedangkan ibuprofen bekerja menghambat hormon prostaglandia, perantara rasa nyeri. Penghambatan itu membuat kadar prostaglandia menurun sehingga nyeri pun mereda.

Walau tergolong ringan, baik parasetamol maupun ibuprofen harus dikonsumsi sesuai dengan aturan pakai. Dalam sehari, obat tersebut maksimal boleh ditenggak 3-4 kali satu butir. Celakanya, tak sedikit orang yang ingin mereguk hasil instan. Dengan harapan sakit kepala segera enyah, tak jarang mereka menenggak dua butir sekaligus. Tindakan seperti itu sudah termasuk miss used.

Bila hanya dilakukan sekali-dua kali, tubuh mungkin akan baik-baik saja. Yang dikhawatirkan, perilaku tersebut menjadi kebiasaan dan dilakukan dalam waktu lama. Bahaya muncul kalau itu terjadi.

Bahan-bahan itu bisa merusak organ tubuh. Parasetamol misalnya. Penggunaannya dalam waktu lama bisa meracuni hati dan mengganggu fungsi kerjanya. Ibuprofen yang dikonsumsi dalam jangka panjang juga akan merusak pencernaan dan memicu penyakit mag.

Untuk menghindari hal tersebut, Suharjono mengingatkan pasien agar mengonsumsi obat secara bijak. ”Gunakan seperlunya saja,” tutur pria 56 tahun itu. Jika gejala sakit kepala tidak mereda setelah tiga hari konsumsi menurut dosis, pasien perlu segera berobat ke dokter untuk melihat kemungkinan adanya penyakit lain. (ign/soe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s