Wiranto, SB, dan Bursah Jajal Koalisi .:. Siap Bangun Aliansi Alternatif untuk 2009

Jakarta,KP
Wacana mengenai pentingnya membangun koalisi alternatif pada Pilpres 2009 kembali mencuat. Kali ini, pemikiran tersebut datang dari pucuk pimpinan tiga partai. Mereka adalah Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir (SB), Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Umum DPP PBR Bursah Zarnubi.

Ketiganya memang belum membuat komitmen ”hitam di atas putih” untuk membentuk koalisi bersama. Namun, setidaknya, telah tercetus keinginan dari para elite politik itu untuk mendorong lahirnya kepemimpinan baru.

Ide tersebut muncul secara spontan dalam diskusi Koalisi Alternatif Menuju Pilpres 2009 yang digelar SB setelah berbuka puasa bersama di kediamannya di kawasan Pondok Indah, Jakarta, kemarin. Selain dihadiri 35 wakil organisasi kepemudaan (OKP), diskusi yang berlangsung santai itu juga diikuti sejumlah artis-aktivis PAN. Misalnya, Henidar Amru, Eko Patrio, Wulan Guritno, dan Silvana Herman.
Dalam kesempatan itu, Wiranto menyampaikan bahwa kepemimpinan nasional yang berkuasa saat ini masih sering mengingkari realitas. Alih-alih mengakui dan memperbaikinya, permasalahan tersebut justru dipoles untuk kepentingan pencitraan pribadi.

”Makanya, kita membutuhkan koalisi strategis yang mampu melahirkan kepemimpinan baru. Ini tidak bisa ditawar lagi,” kata Wiranto dengan ekspresi wajah serius. Menurut dia, kepemimpinan baru tersebut harus bisa memberikan solusi yang tidak bersifat normatif.

Wiranto mengingatkan bahwa demokrasi tidak akan bisa berimplikasi positif terhadap kesejahteraan bila hanya sebatas memelihara kepentingan pragmatisme parpol-parpol. Sementara itu, menurut dia, dalam realitasnya, setelah reformasi bergulir, tidak mungkin lagi ada parpol yang bisa menjadi single majority atau memperoleh suara mayoritas dalam pemilu.

”Karena itulah, diperlukan koalisi baru dengan perspektif baru untuk membangun pemerintahan yang benar-benar kuat,” cetusnya. Wiranto lantas menyindir koalisi yang dibangun Presiden SBY melalui kabinetnya seperti dagang sapi. ”Semua pada urunan menteri, bukan dengan pertimbangan profesionalitas. Bagaimana bisa menyelesaikan masalah,” sindirnya.

Sementara itu, SB berharap muncul kesadaran baru di antara tokoh-tokoh politik untuk melakukan rekonsiliasi nasional setelah Pilpres 2009. Semangatnya, menurut dia, adalah fairness dalam kompetisi politik.

”Yang menang jangan merasa semua sudah dikalahkan, sedangkan yang kalah tidak lagi dendam,” tuturnya. Karena itu, menurut SB, koalisi alternatif justru harus merangkul kekuatan yang sebelumnya tidak ikut bergabung.

SB menyampaikan, pada prinsipnya, siapa pun yang menjadi pemenang dalam pilpres harus diterima dan didukung. Meski begitu, di parlemen tetap ada kubu oposisi yang kritis sehingga pemerintahan yang terbentuk tidak korup dan menjadi otoriter. ”Intinya, perlu ada pembagian tugas,” tegasnya.
Pandangan SB itu dibenarkan Bursah Zarnubi. Menurut Bursah, wajah perpolitikan nasional memang masih jarang memperlihatkan ”sikap lapang dada” di antara elitenya dalam menerima kekalahan. Secara terbuka, dia mencontohkan perseteruan antara SBY dan Megawati. ”Mega yang kalah itu sampai sekarang tidak mau salaman dengan SBY. Rasanya tidak enak, mestinya kan fair saja,” katanya.

Bursah mengakui bahwa koalisi alternatif memang diperlukan. Tapi, tegasnya, yang jauh lebih penting adalah menyusun agenda-agenda kerja. ”Semua duduk bersama membahas apa program konkretnya. Kalau koalisi asal koalisi, hasilnya sama saja,” ujarnya.

Bursah mengatakan, dirinya siap berkoalisi dengan siapa pun yang mau menerima platform PBR. Terutama yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi yang tidak bergantung kepada pihak asing, opsi penghapusan utang luar negeri, dan pembangunan ekonomi di pedesaan sebagai prioritas. ”Percuma membangun koalisi alternatif kalau tidak anti-neoliberalisme,” tegasnya, lantas tersenyum. (pri)