Kasus Askeskin Mulai Disidangkan .:. Dokter Zamri Terancam 4 Tahun Penjara

Baubau, KP
Setelah lama “mengendap” di Kejaksaan Negeri (Kejari) Baubau, kasus Askeskin akhirnya masuk Pengadilan Negeri. Bahkan, Senin kemarin, perkara yang menyeret dokter Zamri Amin SPOg sebagai tersangka mulai disidangkan.  Agenda awal disidang perdana itu adalah pembacaan dakwaan oleh  Jaksa Penuntut Umum (JPU) La Ode Amili SH.

Dalam dakwaannya, Kasi Intel Kejari Baubau ini mendakwa dokter spesialis kandungan itu sebagai tersangka korupsi karena melanggar Undang-undang nomor 31 tahun 1999  yang telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 dengan ancaman pidana 4 tahun penjara.

Sidang perdana kasus Askeskin kemarin, di mulai sekitar pukul 14 30 wita. Dokter Zamri Amin hadir di PN Baubau didampingi istri dan anak-anaknya serta sejumlah kerabatnya. Dia hadir di PN menggunakan baju kemeja lengan pendek warna putih dan mengantongi sebuah Hand Pone (HP) berwarna merah.

Dalam kasus ‘mark up’ obat miskin itu, dokter ahli kandungan ini didampingi oleh tiga kuasa hukumnya yakni Harun Lesse SH, Iamawati SH, dan Kamaruddin SH. Menariknya, saat dokter Zamri hadir di PN Baubau dia tidak langsung dijebloskan ke dalam sel tahanan seperti tahanan lazimnya. Begitu tiba di PN Baubau, dokter Zamri ditempatkan di ruang Kasubag Umum PN Baubau sehingga dengan mudah ia bercerita dengan orang-orang terdekatnya, termasuk mengutak-atik HP berwarna merah yang digenggamnya.

Sebelum mengikuti persidangan perdana kemarin, dokter Zamri ditahan sekitar dua bulan di Lembaga Pemasyarakatan Baubau sebagai  tahanan titipan Kejaksaan.  Ditanya sangkaan JPU dalam kasus indikasi korupsi yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 64 juta, dokter Zamri Amin membantah dengan tegas. Menurut dia semua sangkaan tersebut tidak benar.

Sidang yang dipimpin hakim Karto Sirait, Muh Indarto, dan Koni Hartanto itu akan kembali dilanjutkan tanggal 9 Oktober 2008 dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Karto Sirait mengatakan, saksi-saksi dalam kasus itu sebanyak 20 orang. Mereka berdomisili di Kota Baubau dan Kota Kendari. Sehingga dengan penundaan sidang hingga 3 minggu lamanya, Karto Sirait berpendapat seluruh saksi bisa dihadirkan pada sidang selanjutnya.

Menanggapi pernyataan itu, La Ode Amili SH selaku JPU mengatakan, untuk menghadirkan saksi-saksi sebanyak itu tidak mudah. Sehingga dia tidak bisa menjamin seluruh saksi akan dihadirkan saat sidang selanjutnya. Amili menjelaskan, dalam kasus Askeskin terjadi penulisan resep obat berlebihan, utamanya jenis Gammaras sebanyak 38 vial. Setiap vial seharga sekitar Rp 1,7 juta. Dari kelebihan obat itu, Dokter Zamri Amin diduga menjualnya kembali ke apotik Kimia Farma. Akibat perbuatannya negara diduga mengalami kerugian mencapai Rp 64 juta.(nur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s