Rumah Makan, Bar, dan Salon Dirazia

Kendari, KP
Pengambil kebijakan di pemerintahan Kota Kendari akhirnya mengambil sikap tegas perihal himbauan penutupan rumah makan di saat Ramadhan. Senin (22/9) kemarin tim yustisi yang terdiri dari gabungan Satpol-PP, Polresta, Kodim 1413 HaluOleo, Dinas Pariwisata, dan Kantor Perijanan menggelar operasi penertiban rumah makan, salon, dan bar yang diduga beroperasi tanpa izin.

Rumah Makan Jeneberan yang berlokasi di Jalan Lawata, Mandonga, menjadi target pertama operasi yang dipimpin Yusrianto, Kepala Penyidik Pegawai negeri sipil (PPNS). Di tempat yang menjajakan coto ini, sang pemilik telah memiliki legalitas surat izin usaha perdagangan (SIUP) yang telah habis masa berlakunya.

Namun Haeruddin salah satu karyawan menepis bila usaha yang dikelola H Natsir ini tidak memiliki SIUP. “Kami sementara mengurus perpanjangannya, pak,” katanya berkilah dihadapan penyidik PPNS sembari menambahkan bila Jeneberan sendiri telah memiliki tiga cabang di Kota Kendari.

Tak berapa lama, tim yustisi bergerak menuju rumah makan Nonya dibilangan Jalan Abdullah Silondae, namun warung makan yang dikelola pengusaha keturunan ini telah memiliki sejumlah izin resmi baik SIUP, SITU maupun izin lainnya.

Operasi yang berlangsung selama lima jam ini terus menyisir daerah  Kemaraya, Kota Lama, Andonohu, Wuawua, dan berakhir di Pasar Baru. Rekapan tim, mencatat 22 rumah makan, salon dan Bar beroperasi tanpa izin maupun kelengkapan suratnya telah kadaluarsa.

Rencananya 22 pengusaha pengelola ini Selasa (23/9) hari ini bakal memenuhi panggilan penyidik  PPNS yang sebelumnya mendapat surat panggilan.

Yusrianto, menandaskan selain menaati himbauan Wali Kota perihal penutupan rumah makan disaat puasa, kebijakan ini juga merupakan penerapan dari tiga perda yakni Perda no 12 tahun 2005 tentang izin usaha rumah makan dan bar.

Selain itu, Perda no 3 tahun 2008 tentang retribusi izin tempat usaha rumah toko, dan Perda no 13 tahun 2005 perihal izin usaha rekreasi dan hiburan umum. “Sanksi terberat adalah pidana dengan masa kurungan tiga bulan atau denda Rp 10 juta,” tegasnya.

Alumni administrasi Publik Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta ini menghimbau agar rumah makan yang menjalankan aktivitasnya selama Ramadhan untuk tetap menghargai orang yang berpuasa, yakni dengan cara menutup tempat usaha dengan kain tertutup. (cr4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s