Mengakhiri Konflik secara Islami .:. Oleh Salahuddin Wahid *

KITA sering mendengar ceramah atau mau’idhoh ha sanah dari banyak kiai mengenai cara para tokoh NU masa lalu menyelesaikan konflik internal. Menurut kamus, konflik ialah pertentangan atau perselisihan pendapat. Salah satu contoh klasik di dalam NU ialah perselisihan pendapat antara KH A.?Wahab Hasbullah dan adik iparnya, KH?Bisri Syansuri. Mbah Wahab adalah mbah buyut Fajrul Falakh. Mbah Bisri adalah kakek Gus Dur dan mbah buyut Muhaimin Iskandar dan Saifullah Yusuf.

Mbah Wahab adalah penggagas berdirinya NU, yang lalu mengajukan gagasan itu kepada guru beliau KH M.?Hasyim Asy’ari dan mengajak beliau bersama mendirikan NU serta menjadikan beliau rais akbar PB NU hingga wafat pada 1947. Setelah itu, Mbah Wahab menggantikan menjadi rais aam dan Mbah Bisri sebagai wakil rais aam.

Pada saat Bung Karno (BK) membubarkan DPR hasil Pemilu 1955 dan menawari NU untuk masuk ke DPRGR yang akan dibentuknya, di Partai NU terdapat dua pendapat: menerima tawaran itu (Mbah Wahab dkk) dan menolak (Mbah Bisri dkk). Perselisihan pendapat itu amat tajam dan penuh dengan dampak bagi partai politik. Kalau terjadi pada partai politik lain atau terjadi saat ini, amat besar kemungkinan terjadi perpecahan.

Tetapi, Mbah Wahab dan Mbah Bisri saling menghormati pendapat masing-masing. Gus Dur pernah bercerita bahwa Mbah Wahab mencoba memengaruhi pendapat Mbah Bisri dengan memasakkan makanan kegemaran Mbah Bisri. Mbah Wahab memang pandai memasak. Tetapi, Mbah Bisri tetap pada pendiriannya. Tidak ada pengikut Mbah Bisri yang diintimidasi atau dikenai tindakan apapun oleh Mbah Wahab dan pengikutnya.

Ibu saya yang putri Mbah Bisri mohon jawaban dari beliau karena Ibu sependapat dengan Mbah Wahab dan bersedia menerima tawaran menjadi anggota DPRGR. Menurut Mbah Wahab, NU menerima dulu tawaran itu. Kalau keputusan itu tidak tepat, NU bisa keluar. Mbah Bisri menjawab bahwa terserah kepada Ibu untuk menerima tawaran itu. Beliau tidak mengharuskan Ibu mengikuti pendapat beliau.

Apa yang saya kemukakan di atas ialah teladan yang baik tentang cara kita menyelesaikan perselisihan pendapat tanpa mengganggu persaudaraan dan juga tidak mengalahkan kepentingan bersama (NU) dengan tetap menjaga kekompakan NU. Teladan seperti itu akan menjadi pelajaran yang lebih efektif dibandingkan dengan 100 ceramah yang memukau.

Pada Muktamar NU 1967, Mbah Bisri terpilih sebagai rais aam. Tetapi, beliau menolak dan tetap mendukung Mbah Wahab menjadi rais aam. Mbah Bisri pernah memecat Ketua I? PB NU Subchan dengan alasan syar’i. Pak Subchan tidak melawan secara frontal, tetapi melalui sejumlah tokoh berusaha melunakkan hati Mbah Bisri dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Akhirnya Mbah Bisri melunak.

Bandingkanlah dengan konflik yang melanda PKB saat ini. Mengapa para tokoh yang berkonflik tidak ingat teladan dari leluhur tersebut. Kalau para tokoh yang dzurriyyah (keturunan) Mbah Bisri tidak bisa meneladani sikap beliau, sungguh tragis.

Para tokoh PKB itu harus menjawab kepada diri mereka sendiri, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap tindakan tidak terpuji seperti membakar berkas caleg atau merampas berkas pendaftaran caleg yang telah diserahkan kepada KPU.

Mari kita bandingkan perselisihan pendapat PKB saat ini dengan perselisihan pendapat antara Mbah Wahab dan Mbah Bisri. Perselisihan pendapat tentang menolak atau menerima tawaran BK tentu jauh lebih tajam dan jauh lebih mendasar dibandingkan dengan perselisihan pendapat dalam menyikapi pemerintahan SBY-JK. Mbah Bisri menolak BK membentuk DPRGR. Menurut beliau, kalau tidak cocok dengan DPR hasil Pemilu 1955, lakukan lagi pemilu untuk memilih anggota DPR baru.

Mengapa mereka bisa menyelesaikan secara arif, lebih berbudaya, dan lebih islami? Kedua kiai sepuh itu tidak banyak mengenal teori demokrasi, tetapi pemahaman tentang demokrasi dan sikap demokrat mereka jelas lebih kuat dibandingkan dengan para keturunan mereka. Gus Dur dan Muhaimin amat fasih berbicara tentang demokrasi, tetapi belum mampu menerapkannya.

Ramadan adalah saat yang tepat bagi Gus Dur (GD) dan Muhaimin Iskandar (Imin) untuk merenungkan teladan Mbah Bisri dan Mbah Wahab. Kedua pihak bersalah dalam konflik itu. Tindakan GD memecat Imin telah dinyatakan bersalah oleh MA. Putusan MA -sejauh saya baca di koran- menentukan bahwa DPP PKB yang sah adalah DPP hasil Muktamar Semarang. Tetapi, mengapa GD sebagai pemegang kekuasaan tertinggi DPP PKB yang sah tidak dilibatkan dalam pengelolaan PKB pasca putusan MA.

Kesan saya bahwa Dewan Syura DPP PKB secara de facto adalah hasil MLB Ancol. Perlu ada kejelasan, mana sebenarnya DPP yang sah di mata hukum. Islam mengajarkan: ”Katakanlah kebenaran, walau terasa pahit”. Kalau itu diabaikan, kita mendidik masyarakat PKB untuk tidak transparan dan tidak menghormati hukum.

Tidak ada kata terlambat untuk berdamai. Ramadan dan Syawal adalah saat yang tepat bagi umat Islam, termasuk tokoh-tokohnya, untuk menyelesaikan perselisihan pendapat dan berdamai. Perdamaian itu harus sungguh-sungguh, bukan hanya basa-basi. Mencegah konflik berkepanjangan lebih utama dibandingkan dengan membela kepentingan kelompok.


Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s