Mengikuti Penjemputan Airbus Pertama AirAsia Indonesia di Toulouse, Prancis (2-Habis) .:. Tidur Pulas setelah Take-off dan Landing Pertama Sukses

Selama 16 jam, Airbus A320 pertama AirAsia Indonesia sukses terbang dari Bandar Udara Blagnac Toulouse menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kondisi pesawat yang masih gres tak menghilangkan ketegangan selama perjalanan.

Laporan: M. Sholahuddin, Toulouse, Prancis

BERBEDA saat kali pertama menginjakkan kaki di Toulouse yang begitu dingin, sore itu cuaca tampak bersahabat ketika Kendari Pos akan meninggalkan kota itu. Udara terasa sangat sejuk di Bandara Blagnac. Mendongak ke angkasa, terlihat banyak guratan apik bekas lintasan pesawat. Menyerupai lukisan tak beraturan.

’’Nah, itu pesawat kita,’’ kata CEO AirAsia Indonesia Darmadi setelah pemeriksaan di bandara beres. Tampaknya, dia juga sudah tidak sabar ingin segera membawa pulang pesawat barunya.

Hamparan karpet merah menyambut. Semerbak bau khas barang baru terasa begitu menembus hidung saat rombongan memasuki pesawat. Bunyi pesawat juga sudah terdengar meraung-raung, seolah ikut-ikutan tidak sabar segera terbang menembus angkasa menuju langit Jakarta.

Wajah kuyu karena cukup padatnya agenda selama di Toulouse sontak berubah semringah. Itu pula yang dirasakan empat pramugari AirAsia Indonesia. Yaitu, Mira Susanti, Monny Turena, Novita Anggraeni dan Tania Marsita. Mereka yang terlihat cantik itu juga demikian gembira. Beberapa kali mereka harus becermin dan merapikan baju uniform-nya.

Namun, bukan berarti tidak ada perasaan cemas. Karena itu, bergegas Darmadi mengajak seluruh awak pesawat berdoa. ’’Mari berdoa, semoga selama perjalanan kita aman tanpa ada halangan apa pun,’’ ujar Darmadi.

Yang memimpin doa adalah Kapten Didik Setiawan, salah seorang pilot yang menerbangkan pesawat itu. Sesaat suasana berubah hening. Tangan-tangan menengadah, wajah menunduk, mulut melafalkan doa. Setelah itu, para awak pesawat berhamburan memilih tempat duduk. Terserah mau duduk di mana saja, tinggal pilih.

Ya, bebas memilih tempat duduk. Sebab, dari kapasitas maksimal 180 seat, penumpangnya hanya 23 orang. Mereka berasal dari tiga perwakilan media nasional, yang lain adalah kru AirAsia Indonesia. Departemen Perhubungan diwakili Direktur Sertifikasi dan Kelaikan Terbang Hery Bakti.

Pukul 15.00 waktu setempat, burung besi itu mulai bergerak. Semula pelan, lalu makin kencang. Pesawat pun mendongak ke udara, menerbangi Bandar Udara Blagnac. Seluruh awak masih tetap berdiam diri di tempat duduk masing-masing.

Tak berselang lama, gerak pesawat terasa sudah stabil. Suaranya juga tak lagi mendesing keras. Tanpa ada yang mengomando, tiba-tiba tepuk tangan bergemuruh. Suasana yang semula sepi berubah riuh. Tubuh yang kaku terpaku safety belt pun mulai melepaskan diri. ’’Selamat. Take-off pertama berhasil,’’ teriak beberapa awak.

Toh, keceriaan setelah take-off  pertama berhasil dengan mulus itu bukan lantas membuat perasaan cemas hilang begitu saja. Sebab, perjalanan Toulouse ke Jakarta masih sangat panjang. Ada tiga rute yang dilewati, yaitu Toulouse–Sarjah (UEA) sekitar 6 jam, Sarjah–Bangkok (7 jam), Bangkok–Jakarta (3 jam). Tiba di Jakarta diperkirakan pukul 16.00 WIB.

Namun, suara Kapten Didik dari kokpit terdengar sedikit memberikan ’’hiburan’’. Dia mengatakan, pesawat ini bertekonologi tinggi dan dinobatkan sebagai best selling aircraft passenger pada 2003, serta merupakan pesawat komersial pertama yang menggunakan teknologi digital fly by wire. ’’Kontrol pesawat menggunakan signal computer, tentunya hal ini sangat berbeda dengan pendahulunya yang masih menggunakan kabel mekanikal,’’ katanya.

Dengan kelengkapan itu, memungkinkan pesawat melakukan semua manuver dengan kisaran satu grafitasi sehingga tingkat kenyamanan terpenuhi. ’’Ya, mirip gerakan berputar roll coaster, tetapi gerakan itu tidak terasa,’’ ujarnya.

Pesawat dengan panjang 37,57 meter, bentang sayap 34,1 meter, dan tinggi 12,14 meter, itu juga full glass cockpit kokpit. Selain itu, pesawat dilengkapi maintenance diagnostic system (ECAM) sehingga memudahkan pilot melakukan identifikasi multifunction system. ’’Pesawat ini juga memiliki kemampuan mendarat dengan jarak pandang nol, dengan catatan airport memiliki fasilitas yang memadai untuk mengakomodasi manuver itu,’’ tambahnya.

Mendapat penjelasan itu, perasaan yang masih disaput waswas mulai lega. Alunan instrumental yang terdengar pelan di sudut-sudut kabin membuat suasana mencair. Para awak pun mulai merasakan kantuk. Dan, pesawat sebentar lagi bakal landing di Sarjah. Kembali perasaan deg-degan muncul. Maklum, inilah landing pertama pesawat baru itu. Jika take-off pertama sukses, bagaimana landing-nya? Penerangan pesawat yang semula terang berubah menjadi temaram.

Beberapa detik kemudian pesawat mendarat mulus sekali. Tidak ada entakan keras. Lagi-lagi tepuk tangan bergemuruh, mensyukuri landing yang juga berlangsung aman. Karena take-off dan landing pertama tidak ada masalah, perasaan deg-degan itu pun praktis sirna. Sebagian besar penumpang pun bisa tertidur pulas. Perjalanan dari Sarjah ke Bangkok, kemudian dilanjutkan ke Jakarta pun terasa singkat dan menyenangkan.

Sekitar pukul 16.15 WIB, pesawat A320 baru itu akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Ratusan pegawai AirAsia menyambut kedatangan pesawat baru itu. Bentangan tulisan selamat datang dan 1st Airbus A320 terpampang besar sekali.

Mata Darmadi dan beberapa petinggi AirAsia Indonesia yang lain tampak berkaca-kaca. Suasana berubah haru. Kalungan bunga pun dipasangkan kepada sejumlah petinggi maskapai penerbangan yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia, itu.

Selepas doa dan mengucap syukur bersama, Darmadi diminta untuk melakukan prosesi kepruk kendi di moncong pesawat. Dengan naik tangga, sebelum kepruk kendi dia mencium moncong itu. Hari ini (25/9) pesawat baru itu akan dipergunakan untuk penerbangan rute baru. Yaitu, Jakarta menuju Batam, Padang, Balikpapan, dan Denpasar.

Darmadi mengatakan, kedatangan pesawat pertama Airbus itu akan menjadi pemicu semangat bagi AirAsia Indonesia. Setelah serah terima pesawat pertama tersebut, pihaknya terus melakukan pergantian pesawat-pesawat lama. Semua diganti Airbus. Tahun ini ditargetkan pergantian 4–5  pesawat. Dan, pada 2009 nanti, ada sekitar 8 pesawat baru lagi. (*/kim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s