Dana BI Bocor Rp 28,5 M sebelum Persetujuan .:. BA Merasa Ditelikung Aulia dan Anwar

Jakarta, KP
Hakim Pengadilan Tipikor kemarin (24/9) menelanjangi dugaan korupsi yang melibatkan mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah (BA). Pria yang juga mantan menteri koordinator perekonomian itu merasa tidak banyak tahu soal aliran dana Rp 100 miliar tersebut. Dia juga mengaku merasa dibohongi anak buahnya, termasuk Aulia Pohan dan Ketua BPK Anwar Nasution.

Dalam sidang kedua yang mengagendakan pemeriksaan terdakwa tersebut, Burhan harus menjawab bertubi-tubi pertanyaan majelis hakim yang diketuai Gus Rizal. Para hakim rata-rata mencecar peran dirinya sebagai gubernur BI yang bisa meloloskan dana miliaran rupiah tersebut.

Burhan memberikan penjelasan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa sebelum rapat dewan gubernur (RDG) 3 Juni 2003, dana YPPI ternyata sudah cair Rp 28,5 miliar. Dana tersebut sudah digunakan untuk diseminasi kepada para wakil rakyat.

’’Keluarnya dana tersebut atas persetujuan Aulia Pohan selaku pengurus yayasan. Saya tidak tahu kalau dana itu sudah keluar,’’ ujarnya.

Belakangan, total dana yang mengalir mencapai Rp 31,5 miliar. Dia juga mengaku ada ketidakberesan penggunaan dana YPPI tersebut setelah ada audit dari BPK.

Dalam sidang itu, Burhan juga menyesal karena saat menjadi gubernur dirinya gampang percaya pada laporan para deputinya tersebut. ’’Kadang ada penyesalan, kenapa pada waktu itu saya percaya pada deputi saya. Kenapa saya percaya kata-kata Oey Hoey Tiong. Andai kata itu tidak terjadi, betapa indahnya perjalanan karir saya,’’ ujarnya beranda-andai.

Meski berkali-kali terlibat memutuskan penggunaan dana Rp 100 miliar tersebut, Burhan juga mengaku pernah menanyakan kepada para deputi gubernurnya mengapa bantuan hukum yang mengalir kepada para mantan pejabat BI demikian besar. Salah satunya, permohonan yang diajukan Soedrajad Djiwandono.

Jawaban-jawaban Burhan tersebut memicu majelis hakim untuk lebih menelusuri peran gubernur BI itu. Dia sempat dicecar pertanyaan apakah dirinya sebagai gubernur tidak bisa menolak permintaan tersebut. Burhan menjawab bahwa semua keputusan ada di tangan dewan gubernur. ’’Tapi, kalau tidak terjadi, keputusan berada di tangan gubernur,’’ ujarnya.

Burhan menceritakan, informasi adanya kebocoran dana itu juga datang dari Ketua BPK Anwar Nasution. Namun, menurut dia, Anwar tidak memberikan jalan keluar. Bahkan, kata dia, Anwar memberikan solusi aneh. Salah satunya, untuk mengganti dana tersebut, BI bisa mencetak uang saja. ’’Tak mungkin itu kami lakukan. Kalau dia profesor moneter, tentu bukan itu jalan keluarnya,’’ tegasnya. Tentu, kalau mencetak uang, inflasi akan membubung tinggi.

Burhan kemudian mengadakan pertemuan dengan Anwar. Dia menawarkan solusi bahwa penyelesaian kebocoran dana itu bisa digantikan dengan penggunaan tanah BI di Kemang untuk kepentingan YPPI. Nah, Anwar seolah-olah menyetujui rencana tersebut. Hasil pertemuan itu juga dituangkan dalam notulensi. ’’Tapi, ternyata justru menjadi laporan kepada KPK,’’ ungkapnya.

Karena menjadi persoalan hukum, dia kemudian mengajukan surat kepada ketua BPK. Namun, jawaban yang muncul, Anwar memberikan surat balasan yang menyebutkan bahwa solusi penggantian tanah merupakan angan-angan atau imajinasi Burhan semata.
Selesai sidang, beberapa wanita berjilbab menghampiri Burhan. Mereka mencium tangan dan pipi terdakwa itu. Para wanita tersebut bukan istri dan anak Burhan. Menurut seorang pengunjung sidang, mereka adalah kerabat dekat terdakwa yang selalu memberikan dukungan moral. Bukan hanya ibu-ibu, seorang bapak melakukan hal serupa, peluk cium pipi dan tangan. (git/kim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s