Disperindag Temukan Makanan Kedaluarsa

Kendari, KP
Dinas Perindagkop dan Balai POM Kendari cukup terganggu dengan kabar adanya seorang balita bernama Bilal yang diduga keracunan susu kadaluarsa. Pasalnya, operasi makanan dan minuman yang telah habis masa jualnya kerap dilakukan dalam sebulan terakhir, namun hasilnya nihil.

Menindaklanjuti kasus tersebut, tim operasi makanan dan minuman kadaluarsa dari Disperindagkop, Balai POM dan Polresta Kendari kembali menyisir beberapa swalayan untuk memeriksa masa ekspayer berbagai jenis makanan dan minuman.

Alhasil, tim yang dikoordinir, Syam Alam, Sekretaris Disperindakop Kota Kendari itu menemukan beberapa makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa. Sejumlah barang bukti makanan dan minuman kedaluarsa sudah diamankan tim gabungan Disperindagkop, Balai POM dan Polresta Kendari.

Temuan itu adalah 4 botol Kiranti (jamu khusus wanita), Permen Station rasa sebanyak 5 bungkus, Bumbu Kentang Goreng 5 bungkus dan satu kotak minuman Buavita. Makanan dan minuman kadaluarsa tersebut ditemukan di Baruga Mart, Wuawua.

Usai memeriksa masa ekspayer makanan dan minuman di Baruga Mart, tim melanjutkan operasinya di beberapa swalayan lainnya, termasuk Toko Mega Matahari. Namun, penemuan makanan dan minuman kadaluarsa hanya di Baruga Smart. Mereka juga rencana akan melakukan operasi di pasar untuk memantau keamanan daging, ikan, dan ayam yang tidak layak konsumsi serta bahan makanan lainnya.

“Yang kita temukan makanan dan minuman kadaluarsa (habis masa ekspayer) pada beberapa swalayan di Kota Kendari berupa minuman, bumbu, permen, dan jamu untuk perempuan. Kami berharp masyarakat agar dalam membeli makanan dan minuman kemasan dapat melihat dulu masa berlakunya,” ujar Syam Alam usai operasi.

Mengenai kasus yang menimpa Bilal, putra  Aat dan Fitri, sekretaris Disperindagkop itu mengimbau agar mengadukan ke polisi atau Disperindagkop. Tentu dengan syarat, pengaduan itu dilengkapi dengan bukti yang jelas dan keterangan dari dokter yang memeriksa korban. “Yang jelas, dugaan keracunan makanan itu betul-betul disebabkan karena masa ekspayer barang sudah habis,” terangnya.

Swalayan yang melanggar undang-undang perlindungan konsumen jika terbukti melalaikan aturan sesuai hasil penyidikan, maka dapat dikenakan  sanksi pada swalayan yang melanggar aturan itu baik Perdata maupun Pidana. Untuk Perdata dikenakan sanksi administrasi dengan denda sampai Rp 200 juta.

Jika sampai pada kasus Pidana dapat disanksi kurungan 5 tahun dan denda sampai Rp 2 miliar. “Tergantung hasil penyidikannya,” ujar Syam Alam. (cr3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s