Ingin Sedot Lemak, Normalkan IMT .:. Buang Tak Lebih Enam Persen Lemak Tubuh

TAK sedikit yang tergiur melakukan liposuction (sedot lemak). Maklum, dalam sekejap, bagian tubuh yang dihinggapi lemak bisa dienyahkan. Sayang, tingginya peminat itu, ternyata, tidak dibarengi pengetahuan yang cukup soal liposuction. Tak ayal, semua orang ingin menjajalnya.

Menurut dr Djoned Sananto SpBP, setidaknya liposuction disarankan untuk mereka dengan indeks massa tubuh (IMT) mendekati normal atau justru normal. Sebab, liposuction merupakan pengenyahan lemak pada satu area tubuh tertentu. Bukan menyeluruh. ”Misalnya, seseorang yang bermasalah dengan perut buncit. Maka, hanya lemak di bagian perut yang dihilangkan,” kata spesialis bedah plastik dari RS Al-Irsyad, Surabaya, kemarin.

Mereka yang mengalami obesitas kurang sesuai bila memanfaatkan tindakan itu. Pada pengidap obesitas, kelebihan lemak terjadi menyeluruh. Artinya, penyedotan tidak mungkin dilakukan pada satu area. Kalaupun harus melakukan di semua bagian, ada begitu banyak lemak yang harus dibuang. Padahal, pembuangan lemak tersebut dibatasi. ”Pembuangannya tidak boleh melebihi 6 persen lemak tubuh,” jelas Sananto. Lebih dari itu, risikonya fatal, bahkan bisa berakibat kematian.

Karena itulah, mereka dengan berat badan sangat berlebih disarankan mengubah pola makan dan berolahraga terlebih dahulu. Setelah berat badan turun, baru sisa-sisa lemaknya diberangus dengan sedot lemak. ”Lagi pula, bila pasien obesitas langsung menjalani penyedotan, kurang bagus hasilnya,” imbuhnya. Begitu disedot, bagian kulit yang tadinya berisi lemak akan kosong dan bergelambir.

Selain itu, kebiasaan pola makan buruk dan jarang olahraga pada pasien obesitas mengakibatkan berat badan melonjak lagi. Bahkan, bisa jadi angka timbangan naik melebihi sebelumnya. Kok, bisa begitu? ”Sel lemak berkembang 10 kali lipat dari ukurannya,” ulas Sananto. Meski jumlah lemak sudah dikurangi di dalam tubuh, sel lemak itu bisa mengembang.

Pengembangan tersebut, antara lain, dipicu gaya hidup serta pola makan yang tidak sehat. Dengan aktivitas itu, sel lemak akan berkembang semakin besar sehingga tubuh ikut menggembung. ”Jumlah sel lemaknya bisa jadi sedikit. Tapi, karena ukurannya mengembang sepuluh kali lipat, tubuh jadi gemuk lagi,” katanya. (ign/nda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s