Ditangani Tiga Gubernur, Kubahnya Dihiasi 99 Asma’ul Husna

Jika ada yang mengatakan Masjid Agung Al Kautsar, adalah salah satu kebanggaan bagi warga Sultra, hal itu benar adanya. Masjid termegah di bumi anoa ini, selain memiliki lokasi indah dan luas, rumah ibadah ini juga merupakan pusat kegiatan da’wah dan budaya islam di Sultra.

Munandar, Kendari

Berdirinya Masjid Agung Al Kautsar, diawali dari sebuah inspirasi dan pemikiran pemerintah daerah Sultra dan tokoh-tokoh agama, akan adanya sebuah masjid yang bisa menjadi icon Sultra, dengan beragam kelebihan yang dimilikinya. Sebelumnya, lokasi Masjid Agung Al Kautsar yang berdiri kokoh saat ini, merupakan lokasi sebuah masjid kecil, yang dinamai masjid Korem tahun 1962 lalu.

H Abdullah Umar Tafqi SIp, Imam Masjid Agung Al Kautsar, kepada koran ini beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa tahun 1962 lalu, masjid korem yang biasanya dikenal sebagai masjid tentara itu telah berdiri. Selanjutnya, tahun 1976, dibuatlah pondasi dasar Masjid Agung Al Kautsar, yang kala itu Sultra di bawa kendali pemerintahan Gubernur H Alala.

“Saat itu, pembangunan masjid ini terus berlangsung, sehingga tahun 1978, masjid agung ini sudah mulai digunakan, sesuai peruntukkannya, seperti Shalat,” katanya. Imam pertama hingga sekarang Masjid Agung Al Kautsar itu, mengungkapkan, di masa kepemimpinan H Alala, sebagai Gubernur Sultra, masjid itu sudah bisa dipakai, hanya saja belum berdinding.

Kemudian setelah La Ode Kaimuddin, menjadi Gubernur, pengganti H Alala, pembangunan dinding masjid diselesaikan. Selanjutnya, pembenahan masjid hingga rampung terjadi di masa Gubernur Ali Mazi.

Dilanjutkan, salah satu kelebihan masjid agung tersebut yakni, memiliki lokasi terindah diantara lokasi-lokasi masjid yang ada di setiap provinsi di Indonesia. Alasannya, dari pengamatannya selama berkeliling di segenap provinsi di Indonesia, ia bisa membandingkan dengan lokasi masjid di setiap daerah itu. “Lokasi masjid ini di atas bukit dan memiliki luas dua setengah hektar, dan inilah yang tidak dimiliki masjid-masjid di daerah lain,” jelasnya.

Selain itu, kata pria yang sudah menjadi imam masjid termegah di Sultra selama 20 tahun itu, kubah masjid agung ini, dihiasi dengan ukiran huruf arab 99 Asma’ul Husna. Pantauan koran ini, ketika wajah menengah ke atas, tampak lukisan-lukisan indah huruf arab yang tidak lain berupa sederet nama-nama agung Allah STW, sebanyak sembilan puluh sembilan.

Lukisan itu, dihiasi dengan warna-warni yang meneduhkan hati saat memandangnya. Tidak hanya itu, di setiap dinding masjid, terlukis lafadz zikir kepada sang pencipta, yang kian mengagungkan Allah SWT.

H Abdullah Umar Tafqi menandaskan, masjid yang memiliki daya tampung hingga ribuan orang terebut, sudah merupakan pusat kegiatan da’wah bagi umat islam di Sultra, bahkan sebagai tempat pengembangan budaya-budaya islam. “Masjid ini memang pantas menjadi kebanggaan warga Sultra. Masjid ini didirikan melalui inspirasi Pemda dan para tokoh agama di daerah ini, guna memenuhi kebutuhan kita umat islam dalam menjalankan segala anjuran Allah SWT,” katanya. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s