Dokter Bijak, Pasien Pintar .:. Oleh: Pribakti B. *)

Sebetulnya, tidak sederhana merumuskan dokter bijak, apalagi merumuskan siapa dan bagaimana dokter bijak itu. Dalam filsafat kedokteran, dokter bijak diharapkan memiliki kriteria berpraktik kedokteran bermutu dan beretika (manusiawi) yang dikenal dengan good clinical governance.

Meski demikian, dalam membuat perumusan, dokter tidak boleh melupakan bahwa dia juga manusia biasa yang bisa salah. Sehingga, sebaiknya perumusan yang dibuat juga memperhitungkan aspek minimal yang harus dimiliki oleh seorang dokter bijak.

Sesungguhnya, kejujuran profesi dengan menunjukkan kegagalan merupakan salah satu kekuatan dan keluhuran profesi kedokteran yang berfalsafah bahwa “Menjadi dokter adalah sekadar mengamalkan ilmu kedokteran yang diperoleh, tapi Tuhanlah yang menentukan”.

Karena itu, di tengah maraknya rasa ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan dokter, baik melalui surat pembaca maupun SMS layanan publik di media massa, sudah tentu hal itu memengaruhi hubungan dokter dan pasien.

Bagaimana hubungan yang ideal antara dokter dan pasien? Tidak mudah menjawabnya. Sebab, banyak dokter yang menganggap dirinya serbabisa, sedangkan pengetahuan pasien mengenai penyakit amat minim. Akhirnya, pasien hanya “pasrah” di tangan dokter.

Padahal, sebagai pasien, dia memiliki hak untuk menentukan dan memilih kesehatannya sendiri. Harus diakui, dalam kenyataannya, ada dokter yang bijak dan dokter tidak bijak.
Dokter yang tidak bijak biasanya akan mementingkan diri sendiri, memberikan resep yang mahal, menyuruh pasien untuk melakukan pemeriksaan yang tidak perlu, dan yang tergawat melakukan malpraktik karena kurang ahli. Sebaliknya, dokter yang bijak harus memiliki empati, moral, etika, logika yang baik, ilmu luas, dan keterampilan mutahir.

Itulah dokter yang bijak dan tidak bijak. Yang pasti, menurut Prof Suyunus dari Surabaya dalam orasi ilmiahnya, semua orang pintar dapat menjadi dokter. Tapi, tidak semua orang pintar adalah orang baik. Hanya orang pintar yang baik yang dapat menjadi dokter baik.

Mungkin, Anda tidak setuju dengan tiga kalimat di atas atau memiliki pendapat sendiri. Tapi, kalimat tersebut mengandung makna yang penting pada pendidikan seorang dokter. Seperti kalimat kedua, “Tidak semua orang pintar orang baik.” Dalam hal ini, terlihat ada kebenaran pada kalimat tersebut.

Kenyataannya, di negara ini memang banyak orang pintar, tetapi berhati jahat. Orang-orang ini adalah koruptor, pemimpin yang ingkar janji, eksekutif yang gemar memperkaya diri sendiri dan lain-lain.
Lebih dari itu, pelayanan penyembuhan penyakit sebaiknya berlangsung dalam suasana yang harmonis, kekeluargaan, dan bahagia. Ini bisa berlangsung bila dokter bekerja dengan profesionalisme tinggi hingga mampu memuaskan pasien.

Bukankah salah satu aspek kepuasan pasien adalah pasien memperoleh haknya dan diberi kesempatan melaksanakan kewajibannya? Itu hanya dapat dilakukan oleh dokter bijak. Tentu saja, dalam hal ini saya tidak punya kapasitas memilah-milih siapa yang termasuk dokter bijak dan tidak bijak. Tapi, tentunya kita (dokter) semua harus berupaya meletakkan profesi kedokteran pada fungsi luhurnya di tengah pergeseran nilai dalam pelayanan kesehatan saat ini.

Bukan hal yang harus ditutup-tutupi bila ada dokter yang berorientasi pada uang, bukan dokter yang tulus membantu menyembuhkan si sakit. Alasannya macam-macam. Salah satunya, pendidikan kedokteran sekarang mahal dan lama. Disorientasi dalam praktik seperti ini mengakibatkan tidak sedikit dokter senior menjadi sangat diminati pasien sehingga mereka harus berpraktik sampai terkantuk-kantuk hingga dini hari. Padahal, pasien bisa dirujuk atau didelegasikan kepada dokter lain. Sebab, bukan tidak mungkin kondisi tersebut malah mengakibatkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan mengecewakan pasien.

Ada pula sebagian dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meskipun tidak pada tempatnya. Misalnya, untuk mendiagnosis penyakit batuk pilek ringan saja, sang dokter harus melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap. Keluhan pusing ditanggapi dengan perlunya pemeriksaan CT Scan. Di sinilah pasien harus pintar memilih dokter.

Celakanya, situasi yang kacau seperti itu direspons pula oleh pengacara. Dengan dalih melindungi hak pasien, mereka menuding kesalahan dokter. Asal tahu saja, tidak semua pengacara mampu memilah mana kesalahan dokter dengan mana kegagalan atau komplikasi.

Beberapa pengacara yang tidak memiliki etika sering membujuk pasien untuk mengajukan tuntutan kepada dokter. Bahkan, ada pula pengacara yang janji tanpa bayaran bila kliennya kalah dalam pengadilan.
Akhirnya, yang banyak terjadi adalah pasien mengajukan tuntutan hukum kepada dokter. Sedangkan pihak dokter tidak mau kalah, mereka bersikap defensif. Jadi, tidak usah heran bila kini semakin banyak pasien yang lari berobat keluar negeri karena tak lagi memercayai kompetensi dokter Indonesia.

Hubungan dokter-pasien seperti inilah yang akan membuat jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah-olah, ada dua belah pihak yang menandatangani kontrak perjanjian, di mana pasien harus membayar dan dokter harus bekerja.
Dengan demikian, terasa unsur bisnis yang kental. Akibatnya, hubungan pasien dan dokter terganggu. Masyarakat akan mudah merasa tidak puas dan dokter tetap bersikap defensif.

Untuk itu, ke depan perlu dirumuskan pola hubungan baru. Yaitu, pola kemitraan pasien dan dokter. Hubungan kemitraan di sini ialah upaya bersama antara dokter dan pasien dalam penyembuhan penyakit. Sesungguhnya, inilah hubungan ideal dokter dan pasien. Sebab, dalam kondisi sakit, baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien pasti membutuhkan dokter. (**)

*) Pribakti B. , dokter RSUD Ulin Banjarmasin, alumnus Fakultas Kedokteran Unair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s