Nico Thomas, Mantan Juara Dunia Tinju Versi IBF .:. Tidak Miliki Sabuk Asli

Nico Thomas pernah mengharumkan nama Indonesia di pentas tinju profesional internasional. Bahkan, dia pernah menyandang gelar juara dunia kelas terbang mini (47,6 kg) versi IBF.

PADA 17 Juni 1989, nama Nico Thomas di elu-elukan bak pahlawan. Pasalnya, nyong Ambon tersebut merupakan petinju juara dunia Indonesia setelah Ellyas Pical yang sudah melilitkan sabuk juara kelas bantam junior (52, 1 kg) versi IBF pada 1985.

Nico memperoleh gelar itu setelah melalui pertarungan ulang atas juara bertahan Samuth Sithnaurepol dari Thailand. Sebelumnya, pada pertarungan pertama (23 Maret 1989) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Nico dinyatakan kalah angka. Dia seakan tak percaya dengan hasil tersebut. Rasa tidak percaya itu bahkan masih dia rasakan hingga sekarang.

“Saya bertarung di depan publik sendiri. Waktu itu, pertarungan berlangsung seru dan saya merasa sudah unggul dalam pengumpulan angka. Tetapi, kenyataannya saya dinyatakan kalah angka. Sakit rasanya. Di kamar ganti, saya menangis,” ucap Nico mengenang peristiwa tersebut.

Tak hanya Nico yang tak yakin dengan hasil itu, Menpora (ketika itu) Akbar Tandjung sependapat dengan Nico. Saat Nico menangis di ruang ganti, Akbar datang dan berusaha menghibur.

Nico masih ingat kata-kata Akbar kala itu. “Jangan sedih Nico. Kamu seharusnya yang muncul sebagai pemenang. Kamu juara, tetapi mungkin belum diperbolehkan mengenakan sabuk juara,” kenang Nico menirukan kata-kata Akbar.

Akbar pun lalu bertanya kepada kubu Nico, apakah pertarungan ulang masih bisa dilakukan. Pertanyaan itu tampaknya disampaikan kepada ring ofisial dari IBF dan mendapatkan jawaban positif.

Setelah itu, Akbar bertanya kepada Nico, “Apakah kamu siap bertarung kembali dalam waktu dekat?” Nico menjawab, “Saya siap Pak.”

Berkat campur tangan Menpora itulah, hanya dalam tempo tiga bulan Nico bisa melakukan pertarungan ulang melawan Samuth Sithnaurepol. Persiapan Nico tergolong keras. Bernaung di Sasana Tonsco, milik Tinton Soeprapto, Nico dilatih oleh kakak kandungnya, Charles Thomas (almarhum).

Pertarungan seri II Nico melawan Samuth Sithnaurepol itu dipromotori Marten Walewangko. Saat yang dinanti-nanti tiba.

Diawali tarian cakalele, tarian khas Maluku untuk membangkitkan semangat juang, Nico naik ring dengan berpakaian daerah ala Maluku. Hasilnya, Nico dinyatakan menang angka mutlak dalam pertarungan 17 Juni 1989, juga di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Bahkan, Nico sempat membuat sang juara bertahan jatuh ke kanvas dua kali.

Seperti acara seremonial pertarungan gelar tinju dunia lainnya, Nico menerima penyematan sabuk juara IBF. Sabuk idamannya tersebut bahkan pernah dibawa ke kediaman Tinton.

Kedua orang tua Nico ikut bangga dan senang dengan hasil itu. Bahkan, Nico berniat membawa pulang sabuk juara tersebut ke kampung halamannya di Ambon.

Namun, dia terperanjat karena sabuk yang dililitkan di pinggangnya ketika menjadi juara dunia itu ternyata milik Ellyas Pical. Belakangan baru diketahui bahwa sang promotor ketika itu tidak menyiapkan sabuk juara yang harus diperebutkan. Mungkin karena waktunya mendesak, promotor lalu meminjam sabuk milik Elly -sapaan karib Ellyas Pical. Sehingga, sabuk juara tersebut kembali diambil oleh pemiliknya sehari setelah pertarungan Nico.

“Sampai sekarang, sabuk juara itu belum pernah saya miliki. Ketika itu, saya memang tidak terlalu mempersoalkan. Yang penting, saya diakui sebagai juara dunia sejati,” ucap Nico.

Belakangan, Nico merasa bahwa memiliki sabuk juara dunia tinju sangat penting. Tetapi, dia tak tahu cara mendapatkannya.(agus sudjoko/diq).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s