Sutiyoso Kritik Kampanye lewat Iklan

Jakarta, KP

Sutiyoso yang telah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden (capres) mengkritik bakal calon rivalnya yang memilih cara beriklan untuk mendongkrak popularitas. Iklan memang signifikan untuk meningkatkan popularitas, namun tidak membawa manfaat bagi rakyat. Menurut dia, para kandidat capres lebih baik turun ke lapangan, melihat langsung kondisi rakyat.

“Iklan di televisi itu, pertama, sangat mahal. Kedua, dengan turun langsung bertemu rakyat, saya bisa mengerti kebutuhan dan masalah yang dihadapi,” ujar Sutiyoso di Jakarta kemarin.

Sejak sebulan lalu, mantan Pangdam Jaya tersebut memang mengadakan safari keliling Indonesia. Safari yang bertajuk Indonesia Pantang Menyerah itu dimulai dari Pulau Supiori di bagian terluar Provinsi Papua serta berlanjut ke Nusa Tenggara Timur dan Sumatera Selatan.

Bapak dua anak tersebut mencontohkan, dalam kunjungannya ke Palembang, dia melihat potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan 13.824 sumur minyak tua yang telah dihentikan eksplorasinya di seluruh Indonesia. “Sebanyak 3.623 sumur tua itu berada di Sumatera Selatan. Ironisnya, sampai sekarang Sumatera Selatan masih mengalami kelangkaan minyak,” kata dia.

Kondisi tersebut dinilainya tidak akan terjadi bila masyarakat memahami Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengusahaan Pertambangan Minyak Bumi. Pasalnya, dalam permen tersebut, KUD dan BUMD dapat mengusahakan dan memproduksi minyak bumi.
Pengelolaan hasil bumi oleh BUMD pasti akan berdampak positif terhadap perkembangan daerah, utamanya memberikan lapangan kerja bagi penduduk lokal. “Pemahaman masalah penting seperti ini tidak akan didapatkan capres yang hanya duduk-duduk menunggu masyarakat menonton iklannya,” kritik Bang Yos, panggilan akrab Sutiyoso.

Pria asal Semarang itu menilai, bakal capres yang beriklan di televisi baru sebatas memperkenalkan diri untuk meningkatkan popularitas. Sedangkan bakal capres yang telah dikenal masyarakat, karena turun langsung bertemu dengan masyarakat, merupakan upaya untuk meningkatkan elektibilitas.

Sutiyoso mengakui, safari keliling Indonesia yang dilakoninya tidak bisa mengatrol popularitasnya yang kini masih di bawah lima persen. Namun, dia yakin bahwa elektibilitasnya meningkat di daerah-daerah yang dikunjunginya. “Semua ada prosesnya. Pada waktunya saya juga akan beriklan, namun tidak sekarang,” paparnya. (noe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s