Pohon dan Bencana di Negeri Gundul Hutan .:. Oleh : Goei Tiong Ann Jr *)

Presiden SBY menetapkan 28 November 2008 (hari ini) sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia. Penetapannya dituangkan dalam bentuk Keppres No 24/2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Kegiatan menanam pohon tersebut dilanjutkan dengan penetapan kegiatan menanam pohon selama bulan Desember sebagai Bulan Menanam Pohon Nasional.

Kegiatan menanam pohon tak bisa dianggap sepele. Dalam berbagai budaya, pohon diyakini sebagai sumber kehidupan (bagaimana manusia bisa hidup tanpa O2 atau oksigen yang dihasilkan pohon).

Misalnya, beberapa masyarakat kuno di Timur Tengah, bahkan sebagian kecil masyarakat kita juga menjadikan pohon sebagai simbol dewa atau Sang Pencipta. Tak heran, di bawah pohon besar, misalnya, sering ada sesajen sebagai tanda hormat manusia, dengan motif mendapatkan keselamatan serta dihindarkan dari segala macam bentuk bencana.

Yang mereka lakukan itu merupakan sakralisasi terhadap alam. Lewat sakralisasi alam itu, terbukti bencana seperti banjir atau tanah longsor jarang terjadi di masa lalu.

Desakralisasi dan Eksploitasi

Kini alam pikir modern mendorong manusia melakukan desakralisasi alam sehingga pola hidup manusia pun terdorong lebih suka mengeksploitasi alam. Pohon-pohon ditebang. Kalau hanya satu pohon, tak jadi soal. Yang jadi soal bila ribuan pohon di hutan dibabati dan dijadikan komoditas.

Departemen Kehutanan memperkirakan jumlah lahan hutan di seluruh Indonesia yang rusak akibat penebangan liar mencapai 2,8 juta hektare per tahun. Hingga kini, penebangan sudah mencapai 60 juta hektare. Penebangan liar merugikan negara Rp 3 triliun-Rp 3,3 triliun setiap tahun. Greenpeace menyebutkan, 72 % hutan Indonesia sudah musnah.

Hutan di Jawa, misalnya, kini tinggal 15% saja. Jumlah manusia yang tinggal di dalamnya lebih banyak daripada jumlah pohonnya. Bayangkan, luas Pulau Jawa 132.187 km2 atau 6,9 persen daratan Indonesia. Namun, jumlah penduduknya sekitar 60 persen dari total penduduk Indonesia.

Banyaknya jumlah manusia dan minimnya pohon atau hutan itu menyebabkan beban lingkungan pulau ini begitu berat sehingga longsor dan banjir menjadi rutinitas yang mengerikan.

Terlebih pada musim hujan, longsor dan banjir menjadi ancaman sangat serius karena bisa merenggut nyawa manusia. Anehnya, di tengah kondisi bencana itu, masih saja terdengar celetukan yang menuding alam, menyalahkan air hujan, serta menyalahkan Bengawan Solo atau Kali Brantas sebagai pemicu bencana banjir atau longsor.

Dalam Webs of Life, Fritjop Capra menjelaskan bahwa alam sebenarnya tidak mungkin menghancurkan hidup manusia secara sengaja. Tetapi, alam yang teraniaya oleh ulah manusia bisa menimbulkan beragam bencana. Air hujan adalah anugerah Tuhan. Namun, air hujan kini tidak bisa lagi diserap pohon-pohon di hutan yang kian gundul. Pasalnya, sudah tak ada pohon di hutan. Air hujan langsung turun dari gunung-gunung gundul yang membawa tanah serta bebatuan bersama air itu menjadi banjir bandang.

Bengawan Solo atau Sungai Brantas pun tak bisa menampung luberan air karena terjadi sedimentasi atau pendangkalan, sementara pohon-pohon yang baru ditanam di bantaran kali masih belum cukup kuat. Jadi, sebenarnya Kali Brantas atau Bengawan Solo yang hari-hari ini menyebabkan banjir di Bojonegoro adalah korban perilaku manusia yang gemar menebang pohon atau membabat hutan.

Kalau makin banyak pohon ditebang dan hutan menjadi gundul, ancaman yang lebih besar pun menunggu, yakni terjadinya pemanasan global (global warming) yang bisa memicu terjadinya 1001 bencana yang lain seperti “rob” naiknya air laut ke daratan yang sudah terjadi di Jakarta Utara. Berbagai ancaman penyakit yang dipicu pemenasan global juga bisa merenggut banyak nyawa.

Semua bencana, termasuk ancaman pemanasan global, bisa diminimalkan jika program reboisasi atau penanaman pohon di hutan bisa dimaksimalkan. Sayang program reboisasi yang sudah dicanangkan sejak rezim Orba justru kalah cepat dengan pemegang HPH. Deforestasi akibat pembalakan liar kita sungguh menorehkan rekor yang luar biasa.

Jangan Seremoni

Karena itu, ditetapkannya Hari dan Bulan Menanam Pohon perlu mendapat dukungan semua pihak. Ini langkah bijak untuk menyelamatkan masa depan kehidupan kita. Memang hasil menanam pohon ini baru akan terasa hasilnya kira-kira 10 tahun mendatang. Tapi jika pohon-pohon tidak segera ditanam,kita hanya akan menuai lebih banyak bencana di masa depan.

Meski demikian, kita berharap kegiatan ini tidak hanya akan bersifat seremonial belaka. Kita berharap, menanam pohon akan menjadi kebiasaan positif mengganti kebiasaan buruk seperti menebang pohon atau membabat hutan sehingga memicu terjadinya bencana alam.

Apalagi, berdasar kajian antropologi, manusia negeri ini dahulu dikenal dengan budayanya yang gemar bercocok tanam (termasuk di dalamnya menanam pohon). Hari atau Bulan Menanam Pohon bisa dijadikan momentum strategis untuk memimalkan kerusakan ekologi dan menghindarkan dari beragam bentuk bencana. (***)

*) Goei Tiong Ann Jr, Aktivis lingkungan, saat ini menetap di Roma, Italia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s