Rembug Kampung di Kelurahan Bonggoeya .:. “Kota Baru” Penadah Banjir

Kelurahan Bonggoeya bisa disebut sorga bagi bisnis perumahan oleh pengembang swasta. Di kampung ini, ada tujuh kompleks perumahan yang dibangun. Di wilayah itu juga berdiri beberapa instansi Negara seperti pengadilan tinggi, asrama haji dan Polresta Kendari. Bonggoeya mirip sebuah Kota Baru.

Dari sisi infrastruktur, boleh dibilang lebih baik di banding Kelurahan lain di Kecamatan Wua-wua. Sayangnya, Bonggoeya berada di wilayah rendah menjadikannya sebagai kawasan penadah banjir, kiriman dari kampung tetangganya, Kelurahan Anaway, Wua-wua dan Wowawanggu.

Derita itu bertambah karena wilayah yang penduduknya tersebar di 4 RW 19 RT itu juga melintas dua sungai yakni sungai Bonggoeya dan Wanggu. Drainase pun belum tersedia dengan baik. Inilah yang jadi focus keluh kesah warga di acara Rembug Kampung Mentari Kendari Bertakwa, di kampung itu, akhir pekan lalu.

La Mpasa, Warga RT 12 mengeluhkan genangan air dan sampah yang senantiasa merendam rumah-rumah warga di tempat tinggalnya yang terkirim dari Kelurahan Wowawanggu. Warga RW 4, Saidir juga berkeluh sama. mereka selalu dikirimi air banjir dari Kelurahan Anaway.

Ia juga protes karena pembuangan sampah terpusat di perapatan tiga,  Asrama Haji dan Wulele. Pasalnya dari 7 kompleks perumahan yang ada di Bonggoeya, tidak punya fasilitas sampah. Ia berharap Pemkot menyiapkan TPS atau container penampung sampah. “Dulu ada TPS di perbatasan Sorumba, tapi ditutup warga karena bau,” kata Saidir.

Haliw, warga RW 03 juga bercerita tentang banjir kiriman dari dari Kelurahan Wua-wua dan menggenangi rumah 30 KK di sepanjang jalan Asrama Haji.     Katanya, khusus Jalan Asrama Haji, butuh drainase sepanjang 500 meter dan Jalan Tandukila sepanjang 300 meter. Sunggai Bonggoeya juga sering meluap sehingga perlu pembuatan talud.

Menyikapi itu Assisten II Pemkot, H Bachrun mengaku jika tahun 2009 nanti, APBD banyak terserap untuk drainase. Itu guna mendukung program Pemkot, meraih Adipura. “Untuk anggaran pembebasan lahan, kami siapkan Rp 10 Milliar,” ungkapnya.

Soal TPS, mantan Wakadis Koperasi itu menyarankan, agar warga membuat lobang sendiri di pekarangan rumah atau bagi yang berpenghasilan lebih, dapat membuat sendiri tong sampah. Untuk usulan pembuatan TPS, warga agar menyiapkan lahan. Ia juga akan berkomunikasi dengan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sultra agar setiap perumahan yang dibangun, juga disiapkan TPS termasuk jalan dan drainase.

Ketua DPRD Kota, Bachrun Konggoasa yang juga hadir meminta warga untuk membuat proposal dan ajukan ke Pemkot, serta tembusan ke DPRD. Soal TPS, politisi gaek itu bakal menginstruksikan 8 anggota DPRD Dapil Wua-wua dan Baruga untuk berbuat, minimal 1 TPS. “Anggarannya, urusan saya dan mereka,” tandasnya.

Selain soal sampah dan banjir, masalah lain juga muncul. Ketua Dasawisma, Hj Hartian memperyanyakan persoalan Badan Layan Umum Daerah (BLUD). Pasalnya di Bonggoeya banyak UKM dan butuh bantuan modal. “Apa syaratnya supaya dapat dana itu,” tanyanya.

Asisten II Pemkot, H Bachrun lalu menguraikan bahwa BLUD didirikan untuk membantu pedagang kecil. Untuk mendapat cukup mudah, syarat utama harus mempunyai usaha dan diberikan perkelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. (Awaluddin Usa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s