Rita Dinah Kandi, Kehidupan Kedua setelah Operasi Tumor Otak .:. Dulu Susah Pegang Tisu, Sekarang Kuat Mengebor Gigi

Sedikitnya tiga artis terkenal meninggal akibat tumor otak, yakni aktor komedian Kasino, aktris Erna Libby, dan pesinetron Sukma Ayu. Salah satu pesohor yang selamat meski menjalani bedah thorax yang berisiko tinggi adalah Rita Dinah Kandi, penyanyi era 1980-an. Bagaimana kesehariannya sekarang?

Ibnu Yunianto, Jakarta

MOBIL Kijang hitam metalik itu masuk halaman rumah yang menjadi tempat praktik dokter gigi di kawasan perumahan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Seorang perempuan paro baya keluar dari jok di belakang pengemudi. ’’Maaf terlambat. Saya tadi ke salon sebentar,’’ kata wanita itu kepada Kendari Pos yang menunggu sekitar 45 menit dari janji jam bertemu.

Rambutnya yang hitam disasak tinggi dengan ujung menutupi dahi kiri. Tatanan rambut itu bukan saja modis, tapi juga efektif menyamarkan bekas jahitan di kening dan kepala bagian kiri. Dua jahitan itu diperoleh ketika jatuh membentur tangga dari lantai tiga rumahnya, serta luka bekas operasi pengangkatan tumor di bagian korteks otak kiri.

Perempuan itu adalah Rita Dinah Kandi, penyanyi yang kondang pada penghujung 1980-an. Setelah beberapa kali berpose di halaman rumah teduh itu, ibu dua anak tersebut lantas mengajak wartawan koran ini ke kamar periksa di ruang tengah. Bukan untuk bertemu janji dengan dokter gigi, karena perempuan itulah dokter giginya.

Lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti pada 1987, perempuan kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, itu sempat memperdalam ilmu ke Australia, sebelum pulang ke tanah air untuk membuka praktik di sejumlah klinik serta rumah sakit swasta di Jakarta. Dia juga sempat mencoba peruntungan mendirikan sebuah perusahaan konstruksi, di samping berkeliling Indonesia untuk mengamen dari panggung ke panggung.

Di ruang praktik yang dindingnya dipenuhi pigura-pigura diploma dan sertifikat, pelantun lagu Kisah Cinta di Kota Kecil itu berkisah tentang pengalamannya berjuang melawan tumor otak yang diderita sejak enam tahun silam. ’’Awalnya hanya migrain (nyeri kepala sebelah) dan cepat lelah. Saya kira hanya masuk angin biasa, karena begitu minum pain killer dan istirahat sehari-dua hari, langsung sembuh,’’ katanya.

Karena tahu migrain sering hanya sinyal dari penyakit yang lebih serius, Rita sempat melakukan pemindaian kepala (CT Scan). Dokter saraf yang memeriksanya ketika itu tak menemukan keanehan. Dia dinyatakan sehat. Migrain itu diperkirakan akibat gangguan keseimbangan hormon estrogen, perkara yang lumrah dialami perempuan menjelang datang bulan.

Saat itu kesibukan Rita tak berkurang karena nyeri kepala dan kelelahan. Antrean pasien di klinik, pekerjaan yang menumpuk di kantor konstruksi dan jasa ekspor-impor, serta tawaran manggung yang bertubi-tubi menenggelamkan seluruh keluhan kesehatannya.

Namun, tubuh tak bisa dikelabui. Selain nyeri migrain yang lebih kerap datang, tangan kanannya kerap kesemutan dan mati rasa tanpa sebab. Rasanya seperti terpukul terutama setelah berolahraga cukup keras. ’’Saya sempat kelebihan berat badan 10 kilogram, jadi maksain olahraga high impact,’’ terangnya.

Semakin lama pil-pil pereda rasa sakit yang diminumnya makin banyak. Awalnya hanya sebutir, lalu tiga-empat butir sehari. Karena menyangka semua keluhan itu akibat kelebihan kolesterol, pil-pil pereda nyeri itu juga ditambah dengan tablet peluruh kolesterol. Tetap tak ada hasilnya.

Pada malam takbiran (menjelang Idul Fitri), 12 Oktober 2007, saat Rita tertidur di kamar di lantai tiga rumahnya, serangan mirip stroke terjadi. Tangan dan kaki kanannya mati rasa sehingga tak bisa digerakkan. Mulutnya perot, pandangan matanya kabur. Kepala kirinya nyeri seperti ditusuk-tusuk. Suara teriakan minta tolongnya kalah oleh suara televisi di ruang keluarga di lantai dua. Keluarga besarnya yang kebetulan berkumpul hendak merayakan Lebaran rupanya tengah menonton film yang seru.

Rita mencoba bangkit mencari bantuan. Menyeret kaki kanan yang lemah, dia berusaha turun ke lantai dua. Nahas, di tangga kakinya terpeleset dan tubuhnya terjerembap. Kepalanya terbentur-bentur anak tangga hingga lantai dua. ’’Ketika jatuh, saya tidak pingsan. Jadi, saya sepenuhnya sadar ketika jidat dan kepala berdarah terbentur-bentur anak tangga,’’ katanya.

Benturan keras itu didengar keluarganya. Setengah jam kemudian, Rita sudah berada di RS MMC (Metropolitan Medical Center) di Kuningan, Jakarta. Ketika itu, dia memang praktik sebagai dokter gigi di sana. Luka di kepalanya dijahit. Untuk memeriksa apakah ada gegar otak akibat benturan, dia sekali lagi menjalani pemindaian kepala.

Tak disangka dokter menemukan citra serupa kapas hitam di bagian kiri kepalanya. Ketika itu, ’kapas’ tersebut disangka perdarahan dalam. Ketika diperiksa ulang dengan cairan kontras, ditemukan tumor berukuran lima sentimeter di batok kepala kirinya. ’’Tumor di bagian otak kiri itulah penyebab seluruh keluhan nyeri dan mati rasa di bagian tubuh kanan,’’ terangnya.

Meski sempat shock, Rita langsung menggelar rapat konsultasi dengan keluarga besar, yang tahun itu terpaksa merayakan Lebaran di rumah sakit. Setelah rapat, dia makin mantap melakukan operasi. ’’Karena saya tahu, tidak ada cara lain untuk menyembuhkan tumor selain harus dikeluarkan. Sempat terpikir operasi di Australia atau Singapura, tapi akhirnya diputuskan di (Rumah Sakit) MMC saja,’’ katanya.

Karena sebagian tim dokter mengambil cuti Lebaran, persiapan operasi ditunda sehari. Esok harinya, setelah berpuasa sehari, delapan orang tim dokter bedah RS MMC langsung mengangkat tumor di kepalanya. ’’Kepala saya dibotakin. Untungnya, rambut justru jadi hitam dan lebat setelah tumbuh lagi,’’ candanya.

Operasi berlangsung lebih dari lima jam. Karena stok darah di PMI kering pascapuasa, keluarganya pontang-panting menghubungi teman-teman artis untuk menyumbang darah. Hasilnya, lebih dari 2.000 cc darah ditransfusikan. ’’Rabu pagi operasi, Jumat tengah malam saya baru sadar dari koma,’’ katanya.

Koma? Ya, karena yang dioperasi adalah otak, pengendali kerja organ, seluruh fungsi organ tubuhnya harus digantikan mesin. Untuk bernapas, Rita harus menggunakan respirator yang ditanam hingga beranda paru-paru. Jantung dan ginjalnya juga diambil alih alat bantu kehidupan.

’’Ketika sadar, rasanya seluruh tubuh sakit sekali, karena saya bisa bernapas sendiri, tapi dipaksa bernapas sesuai perintah mesin. Delapan jam tersiksa sekali, namun saya tidak bisa apa-apa.’’

Setelah operasi, butuh waktu 10 hari untuk memulihkan diri. Rita bak bayi yang harus belajar semuanya dari awal. Soalnya, tangan dan kakinya lemah seperti tak memiliki otot. Dua hari pascaoperasi, memegang tisu saja dia tidak kuat. Meski demikian, dia merasa beruntung karena tidak ada gangguan pada fungsi koordinasi maupun kendali inderanya.

’’Bedah thorax memang paling berisiko, karena otak kan terdiri atas jutaan saraf. Satu saja saraf di otak kiri putus, efeknya bisa ke kemampuan bicara,’’ kata dia.
Meski telah menjalani operasi, setiap hari Rita masih mengonsumsi pain killer, karena nyeri kepala dan mati rasa kerap dirasakan. Dokter mengatakan semua keluhan itu wajar karena bekas tumor di otaknya baru benar-benar kering dua tahun pascaoperasi. Sehari tiga kali dia juga melakukan fisioterapi. Setelah kemampuan fisiknya menguat, fisioterapinya kini berkurang hanya dua hari sekali.

Kini Rita lebih mensyukuri kehidupan keduanya. Dia kini berusaha mensyukuri kesehatan dengan menata diri agar tidak terlalu ambisius mengejar karir dan uang. Dia belajar satu hal, lima jam di meja operasi ternyata sama nilainya dengan semua jerih payah yang dikumpulkannya bertahun-tahun.

’’Pokoknya, sia-sia kerja keras banting tulang selama ini, karena habis untuk berobat. Sekali operasi ratusan juta, dan selama dua tahun ke depan obat-obatan bisa habis puluhan juta sebulan,’’ ujarnya.

Kini dia tak lagi sesibuk dulu. Sebelum operasi, dia kerap melupakan hak tubuh untuk beristirahat. Praktik dari pukul 08.00 hingga pukul 8 malam, bekerja sambilan di perusahaan konstruksi, manggung, rekaman, promo album dan seabrek kegiatan lagi.

Tempat praktiknya, mulai tambal, cabut, dan operasi gigi, kini hanya buka mulai pukul 09.00 hingga pukul 20.00. Itu pun harus dengan perjanjian dulu sehari sebelumnya. Tawaran manggung juga selektif diterimanya, terutama bila harus keluar kota. ’’Banyak orang ragu-ragu nawarin manggung, tanya dulu apa saya sehat,’’ katanya.

Rita yang terakhir mengeluarkan album pada 2000, kini juga masuk bilik rekaman lagi. Rupanya dia mempersiapkan penerbitan album baru pada Januari mendatang. Dua komposer andal digandengnya, yakni Bebi Romeo dan Melly Goeslaw.

’’Sudah lima lagu yang selesai direkam, rencananya ada 10 lagu. Lagu andalannya Pedih, Setia, dan Permata Hati ciptaan Bebi Romeo,’’ katanya setengah berpromosi.(el)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s