Setelah Harga Premium Turun Rp 500 .:. SPBU Sempat Kurang Stok, Sopir Bertahan Tarif Lama

Suasana Kota Kendari pasca resminya harga BBM jenis premium diturunkan tidak banyak berubah. Tak ada antrian panjang dan melelahkan di SPBU sejak malam. Perbincangan seputar tarif angkot pun terasa tidak menarik.

Sainul dan Arif

Mulai 1 Desember kemarin, pemerintah resmi menurunkan harga BBM jenis premium. Tapi tak seperti kenaikan harga premium dimana SPBU selalu dipadati kendaraan, kali ini suasananya relative sepi dan nyaris tak banyak berubah.

Kendari Pos kemarin sempat berkeliling melihat beberapa SPBU, seperti di Puuwatu, Mandonga,  Saranani, dan SPBU Wuawua, depan Rabam. Di semua SPBU itu, stok BBM jenis premium kosong hingga tumpukan kendaraan membentuk barisan panjang mencapai puluhan meter.

Ketiadaan pasokan BBM ini akibat keterlambatan suplay depot Pertamina Kendari. “BBM belum masuk pak, padahal tidak ada kelangkaan,” tutur petugas SPBU Puuwatu, meminta namanya tidak dikorankan.

Selain di SPBU, cerita ikutan tentang harga ini adalah tarif angkot yang jika harga naik juga ikut melonjak. Tapi kali ini, begitu harga turun, diskusi soal biaya transportasi justru redup.

Beberapa sopir angkot yang sempat ditemui sepakat tetap bertahan pada tarif angkutan yang ada saat ini. Mereka menganggap, harga BBM yang hanya turun Rp 500 tidak terlalu berpengaruh terhadap penurunan suku cadang. Sehingga, tidak ada alasan yang rasional untuk menurunkan tarif angkutan.

Dinas Perhubungan juga demikian. Lembaga itu pihak menunggu keputusan Departemen Perhubungan. “Persoalan perubahan tarif itu bersifat nasional. Kalau Dephub mengeluarkan kebijakan itu, maka penurunan tarif angkutan di Kota Kendari juga akan terjadi,” terang Kepala Dinas Perhubungan Kota Kendari, Yunus Alif Tondu, saat ditemui, kemarin.
Makanya sekarang, Dishub Kota Kendari belum bisa mengambil kebijakan apa-apa terha
dap tarif angkutan. Mantan Kepala Satpol PP itu menilai, sampai saat ini belum ada surat edaran atau semacam instruksi Dephub mengenai perubahan tarif angkutan.

“Meskipun sudah berlaku otonomi daerah, tetapi kebijakan mengenai penurunan atau kenaikan tarif angkutan berskala nasional dan kebijakannya ditentukan Dephub. Kalau Dephub bilang turun 10 persen, maka Kota Kendari juga akan menyesuaikan. Tapi sampai saat ini belum ada suratnya,” terang Yunus Alif Tondu.

Wali Kota Ir Asrun juga menguatkan itu. Pihaknya belum mengambil keputusan perihal maksud tersebut. Pengganti Masyhur Masie Abunawas ini beralasan masih perlu kajian dan pembahasan lebih lanjut. “Turun-nya kan tidak seberapa, nantilah kita lihat,” kata Ir Asrun.

Ketua Organda Kendari, Syaban Rahman menandaskan tidak alasan kuat pemerintah untuk mengkaji tarif angkot dengan bersandarkan pada penurunan premium. Bahkan Dinas perhubungan sebagai pembina tehnis Organda sendiri belum melakukan koordinasi, pasca penurunan BBM. Artinya lanjut Syaban trayek dalam kota tetap berpijak pada SK Wali Kota sebelumnya. “Kecuali premium turun Rp 4500, baru tarif bisa ditinjau ulang,” timpal pemilik PO Mitra Usaha ini.

Katanya, ia masih menunggu intruksi DPP Organda menyikapi permasalahan ini, tetapi yang jelas Organda Kendari yang mengayungi 2000-an sopir dari sepuluh trayek di Metro Kendari, menolak bila ada rencana penurunan tarif angkot. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s