Nilai Ekspor Terjun Bebas

Jakarta, KP

Penurunan kinerja ekspor mulai terkonfirmasi pada Oktober lalu. Nilai ekspor bulan itu sebesar USD 10,81 miliar atau turun drastis 11,61 persen dibandingkan September 2008. Dibandingkan Oktober 2007, hanya tumbuh 4,92 persen.

Kinerja ekspor nonmigas juga lesu. Oktober lalu nilai ekspor nonmigas mencapai USD 9 miliar atau turun 8,10 persen ketimbang September lalu. Tapi, dibandingkan bulan sama tahun lalu, ada kenaikan sebesar 8,22 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menyatakan penurunan ekspor itu tidak mengejutkan karena sudah diperkirakan sejumlah ekonom dan bahkan pemerintah. ”Kalau September lalu kinerja ekspor melambat, Oktober lalu bisa dikatakan turun tajam,” kata Rusman kemarin.

Menurut Rusman, penurunan ekspor tidak hanya terjadi pada nilai atau terkait harga, tapi juga volume. Penurunan nilai ekspor ditunjukkan pada sejumlah komoditas penting. Volume ekspor kakao menurun 13,1 persen, sedangkan nilainya anjlok 11 persen. Sedangkan volume ekspor CPO naik 5 persen. Tapi, karena harga CPO jatuh, nilainya turun 5,6 persen.

Kemudian volume ekspor karet turun 15 persen dan nilainya ambles 22,4 persen. Volume ekspor tembaga turun 9 persen dan nilainya anjlok 12 persen. Volume ekspor besi baja turun 39 persen dan nilainya turun 42 persen.

Jepang masih menjadi tujuan utama ekspor dengan nilai USD 1,38 miliar. Disusul AS USD 992,7 juta dan Singapura USD 797,8 juta. Sementara ekspor ke Uni Eropa mencapai 1,34 miliar. ”Ekspor ke Jepang masih stabil. Tapi November-Desember nanti akan terlihat menurun. Yang paling terasa adalah (ekspor ke) AS dan Tiongkok,” tutur Rusman.

Total ekspor Januari-Oktober senilai USD 118,43 miliar atau naik 26,92 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Nilai impor selama Januari hingga Oktober mencapai USD 112,17 miliar. ”Jadi, hanya ada surplus USD 6,26 miliar,” ujar Rusman.

Nilai impor pada Oktober mencapai USD 10,61 miliar atau turun 5,30 persen ketimbang September. Jika dikurangkan dengan nilai ekspor Oktober, hanya ada surplus USD 200 juta. ”Jika kecenderungan ini terjadi terus, bisa defisit,” ujarnya.

Berdasar golongan penggunaan barang, peranan impor barang konsumsi dan bahan baku penolong selama Oktober turun dibandingkan September. Yaitu, masing-masing turun dari 6,77 persen dan 75,65 persen menjadi 5,99 persen dan 74,89 persen. Sedangkan peranan impor barang modal meningkat dari 17,58 persen menjadi 19,12 persen. (sof/dwi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s