Pendistribusian Mitan di Sultra Belum Merata

Kendari, KP

Sejumlah masyarakat di Sultra masih ada yang  kesulitan mendapatkan minyak tanah (Mitan). Khususnya mereka yang berdomisili di daerah kepulauan. Namun pemerintah belum bisa memberikan solusi masalah tersebut.

Kasubdin Energi Dinas Pertambangan (Distamben) Sultra, Andi Aziz mengakui banyak keluhan dari sejumlah masyarakat kepulauan, diantaranya warga yang pulau Wawoonii dan Ereke. “Mereka sulit mendapatkan Mitan,  kalaupun ada harganya melabung tinggi mencapai Rp 4500 hingga Rp 5 ribu dari Rp 2.500 per liter,”  terang Aziz kemarin.

Menurutnya, kesulitan masyarakat mendapatkan Mitan disebabkan terbatasnya pangkalan. Seperti di pulau Wawonii,  dari lima Kecamatan hanya memiliki empat pangkalan Mitan. “Seharusnya memang ada tambahan pangkalan di daerah tersebut. Tapi lagi – lagi Distamben tidak memiliki wewenang sepenuhnya,” ujarnya.

Saat ini pengaturan kuota dan pembagian BBM termasuk Mitan, masih diatur Badan Pengatur Hulu (BPH) Migas. Sementara tugas Distamben hanya sebagai pembimbing dan pengawas di lapangan. “Sudah ada wacana akan dilakukan kerjasama antara BPH Migas dan Pemda dalam pengaturan kouta,” ujarnya.

Kerjasama tersebut menurut Aziz, sangatlah wajar. Pasalnya pemerintah daerah (Pemda)  lebih mengetahui kouta kebutuhan masyarakat terhadap Mitan. Di sektor perikanan di wilayah kepulauan misalnya, tidak sedikit nelayan yang menggunakan Mitan untuk bahan bakar penerangan dan perahu motornya. Padahal,  mereka tidak masuk dalam kuota penyaluran subsidi Mitan. Namun mereka merupakan warga skala ekonomi kecil yang harus dibantu. “Ini sebuah dilema. Namun kami pemerintah akan mengupayakan dan mengaturnya agar pendisitribusiannya bisa merata,” katanya.

Dari data yang ada di Distamben Sultra, kebutuhan Mitan memang melebihi kuota. Pada tahun 2007 penyaluran Mitan bersubsidi tercatat  3310,09 kiloliter.   Sementara 2008 pada semester pertama mencapai 11.805 KL. “Dari data yang ada trendnya selalu naik. Namun memang tahun ini tidak sedikit  BBM subsidi digunakan untuk sektor industri. Misalnya hotel dan restoran, saat mati lampu mereka menggunakan genset. Sementara BBM yang digunakan bersubsidi, seharusnya mereka menggunakan BBM industri,” tambahnya. (lis/lan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s