TAJUK -:- Carut-marut Krisis Politik di Thailand

Aksi politik menentang pemerintah di Thailand berkembang menjadi krisis politik yang amat serius. Demo tandingan dari kelompok propemerintah tidak menciutkan nyali kelompok penentang. Perkembangan menjadi lebih buruk ketika Minggu (30/11) demonstran antipemerintah yang dimotori Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) digranat. Dalam peristiwa itu, 51 orang menjadi korban.

Aksi demo masif menentang pemerintah di Thailand bukan hal baru. Dalam sejarah negeri tersebut, aksi-aksi politik semacam itu telah sering terjadi. Sebagian bahkan dapat menjatuhkan pemerintah yang sedang berkuasa.

Pada masa lalu, Thailand memang dikenal sebagai salah satu negeri yang stabilitas politiknya rawan. Pemerintahan yang berkuasa di bawah kekuasaan perdana menteri (PM) jatuh bangun, baik karena digusur aksi demo maupun oleh kudeta militer.

Misalnya, ketika negeri-negeri lain memiliki stabilitas politik yang mapan, meski diwujudkan melalui represi pemerintahan yang otoriter, Thailand justru sering mengalami krisis politik yang menjelma menjadi ketidakstabilan politik yang serius, meski tidak berlangsung lama.

Perbedaannya, pada masa lalu, krisis demi krisis politik itu jarang yang sampai mengganggu pelayanan publik, terutama di fasilitas-fasilitas umum seperti bandara internasional. Kali ini, aksi-aksi menentang pemerintah justru sebaliknya. Dua bandara internasional, yakni Don Muang dan Suvarnabhumi, diduduki demonstran yang merugikan penumpang internasional.

Demo-demo seperti menentang pemerintah yang berkuasa -yang masih kroni mantan PM Thaksin Shinawatra yang digulingkan kudeta militer beberapa waktu lalu- justru telah memenderitakan warga asing yang ingin bepergian melalui dua bandara internasional itu.

Krisis politik di Thailand memang masalah domestik. Tidak bisa dicampuri negara lain, bahkan oleh tetangga sesama ASEAN sekalipun. Apalagi, hal itu tertuang dalam komitmen antarnegara ASEAN ketika salah satu anggota mengalami krisis politik domestik. Tidak saling mencampuri.

Toh, betapa pun krisis politik di Thailand saat ini adalah masalah domestik yang mandiri dalam kenyataannya tetap merugikan Thailand. Misalnya, kunjungan warga asing, khususnya wisatawan mancanegara, pastilah menurun. Mereka takut ke Thailand karena keamanan yang buruk.
Pun dalam konteks internasional yang lebih besar. Dalam hal ini, image atau citra Thailand sebagai salah satu negara tujuan wisata terbesar di Asia Tenggara menjadi negatif. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Thailand akan sangat terpengaruh, terutama karena devisa dari kunjungan wisata pastilah anjlok.

Masalahnya, negara-negara yang baru berkembang seperti ASEAN sering memperlihatkan watak chauvinistic. Sebagian juga cuek dan tidak peduli. Dalam hal ini, aksi-aksi politik antipemerintah dalam skala apa pun jarang memperhatikan masa depan ekonomi negerinya.

Sikap dan pandangan politik yang menyertai aksi-aksi menentang pemerintah sering berupa ”pokoknya”. Pokoknya harus ditentang. Pokoknya rezim politik yang berkuasa harus tumbang. Pokoknya PM atau presiden harus digusur. Harus diganti cepat.

Sifat chauvinistic dan tidak empati tersebut membawa konsekuensi lebih buruk kemudian hari. Dalam hal ini, ketika krisis politik telah pulih, baik karena pemerintah yang ditentang dapat mempertahankan diri maupun jatuh dan diganti pemerintahan baru, sang rezim politik dihadapkan pada pekerjaan rumah yang berat. Harus memulihkan ekonomi mulai nol.

Tragisnya, ketika pemulihan ekonomi dimulai dari nol, ketika banyak sektor bisnis terpuruk atau bangkrut, dan banyak pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), siapa pun pemerintahannya tetap lemah. Pada saat seperti itu, ancaman krisis politik baru menjadi amat potensial. Ibarat lingkaran setan politik.

Karena itu, krisis politik di Thailand saat ini perlu menjadi pelajaran bagi negara lain anggota ASEAN. Betapa krisis politik itu sangat mahal harganya. Sebab, yang langsung terancam adalah ekonomi nasional yang menjadi harapan hajat hidup semua warga negara. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s