TAJUK -:- Pegawai Tak Produktif Kesalahan Atasan

pns-malas1SINYALEMEN Wali Kota Kendari Asrun kalau banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kota Kendari tidak produktif alias hanya datang ke kantor mengisi absen lalu pulang bukan lagi barang baru. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama. Tidak hanya mereka berstatus sebagai PNS, tapi pegawai honorer pun kasusnya sama. Ini tentu saja tidak dapat dibiarkan, apalagi tahun 2008 seluruh pemerintah kabupaten/kota hingga propinsi lagi-lagi membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Artinya, akan menambah lagi deretan PNS-PNS yang tidak produktif.

Masalah produktif tidaknya seorang PNS maupun tenaga honorer tergantung pimpinan instansi/lembaga dimana sang PNS bertugas. Jika pimpinannya tidak memiliki inovasi atau kemampuan managerial yang baik, yakin saja stafnya juga akan ikut. Jadi kesalahan tidak hanya terletak pada sang staf saja, tapi juga perlu adanya koreksi kepada pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Demikian pula di tingkat kecamatan maupun kelurahan.

Belum lagi dengan “penyakit” hanya mau bekerja kalau ada iming-iming honor, makin membuat staf memilih berdiam diri atau datang tapi tidak melakukan aktifitas apapun. Jangan heran kalau sebagian oknum PNS hanya terlihat saat apel pagi lalu mengisi daftar hadir. Selebihnya tidak lagi diketahui rimbanya.

SKPD tidak ubahnya sebuah lembaga tersendiri yang memiliki tugas, wewenang serta tanggungjawab terhadap bidang tugas. Apa yang harus dan akan dilaksanakan jelas sudah tersedia. Tinggal apakah item-item pekerjaan itu dilimpahkan dan dibagi kepada seluruh staf atau hanya dilakukan orang tertentu. Tapi, pimpinan SKPD juga terkadang serba dilematis. Saat membagi tanggungjawab, ternyata staf dimaksud tidak memiliki kemampuan terhadap tugas yang diberikan. Inilah juga yang akan menjadi bahan koreksi bagi wali kota dan wakil wali kota/bupati dan wakil bupati untuk menyeleksi serta menerima CPNS sesuai kebutuhan SKPD. Jangan sampai formasi yang dibuka hanya berdasarkan kepentingan oknum tertentu untuk memuluskan keluarga atau koleganya sebagai PNS. Kalau itu masih juga terjadi, jangan berharap adanya inovasi atau kreatifitas dari PNS-PNS.

Kita tidak ingin melahirkan PNS yang malas bekerja dan hanya mengharapkan gaji semata dari negara. Sementara tugas dan tanggungjawabnya sama sekali tidak dilaksanakan. Parahnya lagi, kalau ada oknum PNS yang ke kantor hanya menghabiskan waktunya dengan bermain catur, domino atau bergosip ria tanpa ada ujung-pangkalnya. Sementara setiap bulan tanpa ada perasaan berdosa sama sekali ikut menerima haknya, sementara kewajibannya sama sekali tidak dilaksanakan. Kesadaran untuk menciptakan mental pekerja bagi PNS tidak hanya harus dibangun dari dalam diri PNS itu sendiri, tapi elemen pendukung dari luar seperti kemampuan pimpinan lembaga/instansi mendistribusikan tugas kepada setiap staf sekaligus rutin melakukan evaluasi atas kinerja bawahannya harus dapat diimplementasikan.

Jangan sampai justru pimpinannya sendiri tidak mampu, lantas menyalahkan stafnya. Ingat, seorang pemimpin instansi/lembaga dipilih karena memiliki kemampuan lebih di banding lainnya. Atau memang proses pengangkatan seorang pimpinan instansi hanya dilihat dari sisi kepangkatan dan senioritas, sementara perjalanan karirnya sebagai birokrasi tidak ada yang menonjol. Hanya karena adanya unsur kedekatan dengan wali kota/bupati sehingga terpilih dia sebagai kepala dinas, badan ataupun lembaga, meski diketahui sang pejabat dimaksud sama sekali tidak memiliki kemampuan managerial yang baik. (***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s