Susahnya Sekolah di Kampung Miskin

Kecamatan Abeli identik dengan kemiskinan. Kelurahan Tobemeita, Bungkutoko, Poasia, Anggoeya, lalu Mata Bubu adalah wilayah yang sudah sempat disambangi Rembug Kampung. Semuanya punya masalah sama yakni angka kemiskinan di masing-masing kelurahan itu mencapai 80 persen.

Hal serupa tidak jauh berbeda dengan tetangga mereka, Kelurahan Anggalo Melai yang disambangi tim Rembug Kampung akhir pekan lalu. Rekapan pemerintah setempat, dari 420 Kepala Keluarga (KK) yang berdomisi di wilayah yang luasnya 412 Hektar itu, 382 KK hidup dibawah garis kemiskinan.

Kemiskinan warga Kelurahan Anggalo Melai ibarat sudah menjadi “warisan” dari generasi ke generasi. Persoalan utamanya adalah biaya pendidikan yang tinggi, sehingga banyak anak-anak di Anggalo Melai yang putus sekolah dan memilih membantu orang tua mencari nafkah.

Muhzan, tokoh masyarakat setempat, menuturkan, lebih dari separuh generasi muda di Kelurahan Anggalo Melai tidak dapat menikmati lagi pendidikan. “Paling tinggi tamat SMA, itupun hanya segelintir orang,” timpalnya. Hal ini disebabkan biaya pendidikan yang tinggi, dan tidak terjangkau oleh warga Anggalo Melai.
Ia juga mengeluhkan soal kesehatan. Warga Anggalo Melai, banyak yang tidak mempunyai MCK dan membuang hajat di sembarang tempat. “Jika bisa, kami dibuatkan MCK umum,” harapnya.

Nasniati lain lagi, ia meminta Pemkot Kendari agar menyiapkan pekuburan umum, di Kecamatan Abeli. Pasalnya, Punggolaka yang menjadi TPU jaraknya cukup jauh. Sehingga untuk mengubur kerabat mereka menggunakan pekarangan rumah.

Wakil Wali Kota Kendari, Musadar Mappasomba, menjelaskan, untuk biaya pendidikan saat ini, telah banyak yang digratiskan, khusus jenjang SD sampai SMA. Apalagi untuk SD telah ada dana BOS, selain itu bagi siswa yang berprestasi, ada beasiswa yang telah disiapkan.

Bukan saja itu, kata Musadsar, program pemerintah melalui dana block grant juga mengratiskan biaya sekolah. Namun karena program ini baru, sehingga belum terlaksana dengan baik di masyarakat. Untuk pembuatan MCK, bisa dimaksimalkan menggunakan dana P2MK.

Menanggapi keluhan Nasniati, Musadar mengatakan, sebelumnya di Kelurahan Tobemeita, Pemkot Kendari telah membebaskan lahan untuk pembuatan kuburan umum. Namun setelah dilakukan penelitian, tanah itu tidak cocok dijadikan kuburan. “Tanahnya berpasir dan berbatu, “timpalnya.

Jika dipaksakan, akan berakibat buruk bagi kesehatan warga, karena air mayat yang berasal dari kuburan bisa masuk ke sumber-sumber air warga. Apalagi di tanah yang berbatu, air dapat mengalir sejauh 200 meter.

Warga lainnya bernama Syamsudin, mengeluhkan, infrastruktur jalan yang antara Anggalo Melai, Tobemeita dan Benuniray. Jalan dengan panjang dua  kilometer itu telah dipenuhi lubang. “Jika musim hujan, ibarat kubangan lumpur,” ungkapnya.

Respon positif datang dari Ketua DPRD Bachrun Konggoasa. Katanya, jalan lingkar Anggalo Melai, telah masuk pra pembahasan APBD 2009. “Kita akan kawal usulan ini di DPRD,” tandasnya, yang diamini anggotanya Abdul Razak. (Awaluddin Usa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s