Tiga Kontainer Obat Generik Disita

Kendari, KP

Aparat kepolisian Kendari menyita tiga kontainer obat generik. Penyitaan terhadap berbagai obat generik dan alat kesehatan (Alkes) tersebut dilakukan pihak Polresta Kendari, Senin (19/1) lalu sekitar pukul 14.00 Wita. Persediaan obat penyangga (obat buffer stock) milik salah satu perusahaan nasional itu kini diamankan di Mapolresta Kendari. Hanya saja, dalam proses penyitaan obat generik itu dinilai terlalu tergesa-gesa. Pasalnya, tidak ada alasan yang subtansial terhadap penyitaan obat-obatan tersebut karena keberadaannya dilengkapi dokumen resmi.

Kapolresta Kendari, AKBP Erfan Prasetyo mengatakan,  penangkapan terhadap 3 kontainer obat generik dan alkes itu disebabkan atas ketidaklayakan tempat penyimpanan obat. Soalnya, obat tersebut disimpan di rumah Suharto Banteng, perwakilan PT Indonesia Celebes Raya (Indo Cera) express, (perusahaan ekspedisi obat buffer stock untuk Sultra) yang berdomisili di Desa Amoito Siama Kelurahan Ranomeeto, Konsel, bukan di tempat khusus.

Sayangnya, AKBP Erfan Prasetyo tidak bisa berkomentar lebih banyak soal penangkapan tersebut. Mantan Kapolres Wakatobi itu tidak menjelaskan jenis pelanggaran pidana yang dapat dikenakan terhadap masalah tersebut.
“Ini  dilakukan karena tempat penyimpanannya tidak sesuai prosedur yang ada,” katanya.

Suharto Banteng saat ditemui kemarin juga merasa kaget saat mendengar polisi menyita obat buffer stok tersebut. Pasalnya, saat penyitaan dilakukan, buffer tidak ada di rumah.

“Persediaan untuk Sultra sebenarnya sebanyak 9 kontainer. Enam kontainer sudah didistribusikan, dan 3 kontainer lainnya kini disita kepolisian. Penampungan obat hanya bersifat sementara sebelum didistribusikan dan hanya satu periode proyek (tidak berkelanjutan) sehingga tidak mesti membuat gudang khusus,” terangnya.

Besar anggaran terhadap 3 kontainer obat buffer stok itu kurang lebih Rp 1 milyar. Sistem pendistribusian dilakukan bertahap. Obat yang disita polisi rencananya akan didistribusikan ke Dinkes Wakatobi, Butur, Muna, Kendari, Konawe, Bombana dan Konsel.

Direktris PT Indo Cera Espress, Mastin Banteng malah menilai polisi tidak profesional dalam bekerja. Pasalnya, penangkapan yang dilakukan tidak melalui survei dan penyelidikan terhadap keberadaan barang tersebut. Padahal, pengadaan obat buffer stock itu merupakan program Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes Departemen Kesehatan RI dalam pendistribusian obat-obatan yang dibutuhkan semua kabupaten/kota se Sultra.

“Program ini adalah penyediaan obat buffer stock untuk Puskesmas dan Rumah Sakit di seluruh Indonesia. Tender yang dimenangkan salah satu perusahaan itu, menggunakan anggaran dari DIPA sekretariat Ditjen Kefarmasian dan Alkes Depkes RI tahun 2008 lebih dari 1 triliun rupiah,” ungkap Mastin Banteng saat dikonfirmasi via telepon selularnya, kemarin.

Dalam pendistribusian barang tersebut, lanjutnya, setiap provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia harus membentuk kepanitian penerimaan barang atau petugas instalasi farmasi atau petugas unit pengelola obat dari provinsi dan kabupaten/kota yang dituju. Mereka bertugas memeriksa jenis, jumlah, dan kondisi barang yang diterima.

“Kami juga sudah bersurat kepada Danramil dan Polsek Ranomeeto bernomor, 0107/CE/I/09, perihal konfirmasi dan klarifikasi keberadaan barang yang dititip sementara di rumah Suharto Banteng guna meminimalisir biaya gudang di pelabuhan Kendari sebelum didistribusi ke kabupaten/kota di Sultra. Kebijakan ini juga dilakukan untuk mempermudah proses sortir barang,” terangnya. (cr3/ano)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s