Dear: Gani .:. Cerpen Lan Fang

Hai, sudah lama kita sepi dari sapa. Aku selalu rindu bertukar kata denganmu. Mungkin hanya untuk pertanyaan remeh-temeh seperti, ”Bagaimana senjamu di sana?” atau sekadar, ”Tahukah kau kalau di sini terang masih saja setia?” Karena berkabar denganmu sama seperti menyapa kegembiraan.

Aku tahu belakangan ini kau sangat sibuk. Dan, bagi laki-laki, sibuk berarti tidak punya waktu untuk hal-hal yang remeh-temeh. Itu membuatku tahu diri bahwa aku juga termasuk salah satu yang remeh-temeh untukmu. Bahwa aku adalah seseorang yang tidak perlu kau masukkan ke dalam daftar kesibukanmu. Pasti terlalu sederhana untukmu bila harus meladeni pertanyaanku tentang kenapa senja tampak murung. Atau ikut mengamati sampai kapan kesetiaan terang bisa bertahan. Dan, sudah pasti mentraktirku ngopi sambil lesehan di Alun-Alun Sidoarjo (seperti pertama kali kita bertemu) menjadi sesuatu yang amat mahal.

Baiklah, Gani, begini, apakah kau ingat dengan seorang laki-laki yang kau kenalkan padaku ketika terang masih perkasa? Yah, laki-laki seperkasa terang itu! Laki-laki yang meluncur deras dengan langkah seringan angin.

”Tahanlah dia,” katamu ketika aku hendak menghindar. ”Semoga dia membawa kebaikan untukmu,” kata-katamu membuatku terharu, Gani. Bukankah kau juga selalu baik padaku?

Maka, ia kutahan seperti menahan tatapannya yang bagai badik membidikku terlalu dalam.

”Namaku Q,” ujarnya ketika aku bertanya siapa namanya.
Tiba-tiba saja dia membuat dadaku terbelah. Seperti keterbelahan yang kutemukan pada huruf Q. Bukankah Q seperti yin yang? Sebuah keutuhan yang membelah dalam bentuk dan warna. Dua belahan yang berlekuk untuk saling melengkapi lekuk yang lain. Karena dada tidak pernah utuh, bukan? Selalu ada nganga yang harus kita sembunyikan. Dan, kepada belahan yang satulah, kita harus memercayakan nganga itu untuk tertutupi. Lalu, apakah dia adalah belahanku yang satu itu? Aku tidak tahu, Gani. Tetapi, yang kutahu adalah rongga dadaku menjadi begitu longgar. Kerangkanya bergeser dan tak lagi bersekat. Maka, dia begitu mudah menerabas untuk menghuninya.

Gani, bagiku mengenal Q adalah bersentuhan dengan kebahagiaan. Sekali lagi kuulangi, kebahagiaan, Gani! Bukan sekadar kesenangan. Pasti kau tahu bedanya kebahagiaan dan kesenangan, bukan?

Ia seperti Sri Khrisna. Semua yang melekat padanya adalah keindahan. Wajahnya, langkahnya, senyumnya, matanya, kata-katanya, semua merdu dan ayem.

Ia seperti lagu yang tidak perlu nada do re mi fa sol la si do, tetapi mampu meninabobokanku. Ia sehangat cokelat yang kuhirup ketika gerimis tidak terlalu lebat, tetapi sudah cukup membuat tanah basah. Ia secokelat biji-biji kopi yang digerus, tembakau yang dirajang, juga daun-daun kering yang gugur di pengujung kemarau. Daun-daun yang menimpaku sampai mataku berkedip-kedip. Tetapi, aku tidak ingin menghindarinya. Mataku tidak pernah tuntas memandangnya. Karena debar terlalu berkuasa. Sehingga, setiap kali pandanganku selalu jatuh pada dinding, meja, dan lantai. Aku malu bila sampai terjatuh di dalam tatapannya. Di sana aku cuma menjadi penikmat getar yang dihantarkannya. Bisakah kau bayangkan itu, Gani?
***

Q adalah mimpi yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya. Ia selalu memenuhi apa yang kuinginkan. Ia cukup bermantra ”sim sala bim” maka hanya dalam dua detik, aku sudah menjadi putri dengan kemanjaan yang berkelimpahan. Bila aku ingin dia elang, maka dia elang yang kokoh tetapi cakar-cakarnya tidak mencengkeram. Bila aku ingin dia langit, maka dia langit yang teduh. Bila aku ingin dia tembang, maka dia geguritan yang mengharumkanku dengan ratusan wangi ratus. Bila aku ingin dia kisah, maka dia sediakan canting agar aku bisa menulis helai-helai malam. Maka, bila ini mimpi, aku tidak mau bangun, Gani.

Kami adalah sehati yang mendiami dua dada. Satu hati yang saling mengirim dan menerima getar dari semesta. Aku menyesal pernah mengabaikan getar itu. Bahkan ketika getar menjadi debar yang terasa nyut nyut nyut tetap saja kuanggap sebagai entah yang kupertuankan. Sampai ketika getar itu menjelma menjadi telur semesta yang berbisik dalam desis aneh, ”sssttt… ini aku…”, aku baru memercayainya sebagai tuanku yang bersuara tanpa bunyi. Maka, sekarang dengan setia kuerami rasa itu.

Tetapi, tiba-tiba ada perang yang membuat mimpiku retak!
Dengarlah, perang itu hiruk-pikuk seperti gemuruh Kurusetra. Di mana-mana ada suara yang memekakkan seperti jerit sangkakala. Prajurit-prajurit kecil harus bertempur melawan dengan gajah dan kuda. Hujan lembing dan panah menjadi badai yang menderu-deru. Riuhnya membuat katup-katup jantungku merenggang. Rasa yang kuerami itu tidak aman lagi bersembunyi di sana.

Di sana aku melihat Q seperti Hector, seperti Achilles, seperti Musashi. Dia bertarung tanpa pedang, tanpa samurai. Tetapi harus terus menebas. Lalu, tampaklah dia terkepung segerombolan orang yang berbicara dengan bahasa dari pulau-pulau tersembunyi. Orang-orang dengan bahasa yang tak kumengerti. Bahasa yang menggoreskan sayatan seperti irisan pedang dan samurai. Tidak berdarah, tetapi melukai. Dan kuratapi lukanya seperti tercucur cuka.

Perang itu seperti mata pisau yang membuat puisiku mati kata. Puisiku menderita sekali di sana. Takdir memakunya sehingga tidak bisa bergeser. Ah, tepatnya, puisiku tidak mau menggeserkan diri. Karena pada wajahnya, langkahnya, senyumnya, matanya, kata-katanya, pada Q tertancap sekujur puisi.

”Perang adalah sekumpulan manusia berkartu dua. Durna yang bisa menjelma menjadi Rahwana!” Begitulah, kuserapahi perang. Aku terbakar kemarahan sendiri.

”Begitu bengiskah kau menilai Durna? Tahukah kau bila Durna seorang resi terkemuka? Durna semulia Bisma. Ia tidak membela Kurawa. Yang dibelanya adalah Hastinapura,” Q menegurku dengan lemah lembut. Yah, Q selalu bicara dengan nada rendah yang lemah lembut padaku. Ia selalu menegurku dengan rasa. Karena itu pula, aku tidak pernah mampu membantahnya.

Tetapi, aku tidak kenal Kurawa atau Pandawa. Mereka semua petinggi-petinggi yang berebut Hastinapura. Sedangkan, tahta Hastinapura itu bukan apa-apa untukku. Aku cuma mencari Q. Aku cuma ingin Q. Sederhana saja, bukan?

Dan bila berbicara tentang Bisma, bisa saja kumengerti bila hidup dan matinya hanya untuk Hastinapura. Karena ialah sebenarnya pemilik takhta Hastinapura yang bersupata tidak akan jatuh cinta.

Tetapi, bagaimana dengan Durna? Ia resi, ia begawan, ia guru yang begitu dihormati Pandawa dan Kurawa. Ia yang mendidik anak-anak raja itu memanah, berkuda, bergulat, bertombak, bergada, sampai menjadi para satria terkemuka. Suaranya dipatuhi Pandawa dan Kurawa. Kupikir bila ia mencintai Hastinapura, tidak seharusnya ia biarkan Bharatayudha meluluhlantakkan negara yang dibelanya, bukan?

Oh, Gani, dalam mimpiku, kulihat Q adalah Ekalaya. Dia memuja Durna sebagai sang mahaguru. Tetapi, dia tidak bisa berguru padanya karena hanya seorang satria biasa dari kaum pemburu. Dia bukan anak raja. Juga bukan putra dewa. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menjadi murid Durna? Maka, ia mengintip ketika Durna mengajar Arjuna. Kemudian, membuat arca Durna yang diakuinya sebagai guru. Sampai Arjuna memergokinya dan menantangnya bertanding panah. Maka, dua busur sama-sama direntang. Dua anak panah sama-sama melesat. Panah Arjuna memang tidak pernah luput dari sasaran. Tetapi, panah Ekalaya membelah panah Arjuna! (bukankah Q memang keterbelahan?)

Durna terkejut. Ia tidak menyangka ada satria lain yang bisa mengalahkan murid kesayangannya, Arjuna. Kemudian, ia menanyakan siapa guru Ekalaya? Dan ia mengatakan bahwa gurunya adalah Resi Durna.

Tahukah kau apa yang terjadi setelah itu, Gani?
Durna meminta Ekalaya melakukan dakshina. ”Bila kau menganggapku guru, maka potonglah ibu jari kananmu,” pinta Durna pada Ekalaya sebagai bukti bakti dan patuhnya.

Ekalaya pun memotong ibu jari kanannya untuk dipersembahkan kepada gurunya. Walaupun ia tahu bahwa dengan pengorbanannya itu, ia tidak bisa lagi memanah dengan baik. ”Inilah bakti dan patuhku,” ujarnya tanpa menyesali ibu jari kanannya yang hilang. Maka, tidak ada lagi satria panah yang bisa mengalahkan Arjuna.

Oh, Gani… Apakah seorang guru boleh memenangkan muridnya yang satu dengan menyakiti muridnya yang lain?

Pasti sakit. Tetapi, Ekalaya tidak menangisi panah dan meratapi busurnya. Justru aku yang menangisi dan meratapi Q. Aku menyesali jarinya yang terluka. Sakitnya itu air mataku, Gani!

Aku begitu pilu ketika menyadari ternyata sehati belum tentu berarti sepikiran. Gani, apakah sehati saja sudah cukup kuat untuk mengikat dua perasaan? Jawablah…

Mungkin kau keheranan dan akan bertanya padaku, ”Kenapa kau sekarang begitu cengeng?”

Sudah tentu aku menjadi cengeng ketika debar berubah menjadi ketir-ketir yang setiap saat menalu. Bukankah artinya aku harus mulai mempersiapkan hati untuk menerima rasa sakit dari pikiran yang berselipan? Padahal, bukankah hati kami satu rasa?

Aku ingat, kau selalu mengatakan bahwa aku selalu berbicara dengan hati. Padahal, hati tidak pernah dipakai oleh para samurai. Yang ada pada diri petarung adalah terus bertarung atau terpancung. Yang ada pada diri samurai hanyalah menebas atau ditebas. Yang ada pada Q adalah hari-hari berangin yang tidak tahu apakah langit akan teduh atau badai.

Lalu, apa yang ada padaku?

Aku selalu mengatakan pada Q bahwa yang ada padaku adalah mimpi. Memimpikannya tentu saja. Memimpikannya sebagai pangeran berkuda yang membawaku pergi dari perang itu. Pergi ke surga kecil yang kutemukan tanpa sengaja di pedalaman Bojonegoro.

Di sana ada sendang yang dikelilingi hutan bambu. Ketika angin bernapas, batang-batangnya saling bergesekan dan daun-daunnya saling berciuman. Angin juga menggugurkan sebagian dari mereka ke permukaan sendang. Mereka terapung-apung di sana, berpayung cabang pohon-pohon besar yang diselimuti humus dan lumut.

Lalu, rumah bambu itu tidak berdinding sehingga udara bebas lalu lalang. Sebebas kebahagiaan yang menerobos ke dalam hatiku. Dan lantainya dari besek bambu, atapnya dari daun dan pelepah kering yang dijalin satu dengan yang lain dengan tali tambang. Aku menghirup harum yang luar biasa ketika berada di dalamnya. Harum dari partikel udara yang menguap dari sela-sela daun dan pelepah itu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan itu. Diam-diam kucuri harum itu. Kuselipkan ke dalam ingatanku.

”Di sana Eden, di sana Firdaus!” kukatakan dengan menggebu. Karena tempat yang semula hanya bisa kutemukan di dalam kitab tiba-tiba saja tercipta. Kupikir, di tempat itu kehidupan akan berjalan abadi. Karena tidak ada perang di sana. Dan di sana terlalu indah untuk berkisah tentang Durna dan Rahwana. Sehingga, senja tidak akan pernah murung dan terang akan selalu setia. Tidak seperti neraka kecil yang pernah kujumpai di sebuah gedung tua di Jember. Tempat yang membuatku mengerti bahwa neraka tidak selalu panas api.

Bahkan, di dalam rumah bambu itu kutemukan banyak buku. Bukan buku baru seperti di toko buku. Tetapi, buku-buku yang halamannya sudah menguning dan lusuh. Dan, ketika kubuka, puisi berjatuhan dari lembar-lembarnya, bertebaran di atas lantai. Puisi itu tampak berkilauan seperti permata yang bergelantungan di ujung-ujung atap rumah bambu. Puisi yang selalu membuatku teringat bahwa ia adalah puisi.

Dan, seperti biasa ia tertawa mendengar kata-kataku (ia selalu tertawa padaku, Gani). Katanya, ”Iya, semoga saja aku selalu puisi untukmu. Kita adalah puisi yang sehati dan sepikiran,” begitulah Q padaku. Ia adalah pengharapan indah yang memberikan kebahagiaan tak berkesudahan.

Maukah kau juga mengamininya, Gani? (*)

(Pro: Q : amin)

One thought on “Dear: Gani .:. Cerpen Lan Fang

  1. admin. Apa boleh dan bisa mempost kegiatan mahasiswa daerah khusunya Seni tari yang yang di ikuti mahasiswa daerah asal sultra di kota lain dimuat media. terimakasih. mohon infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s