Rapor Kota Kendari Tetap Merah .:. Penilaian Tahap I Tim Adipura

Kendari, KP

Pemkot dan seluruh masyarakat Kota Kendari harus kerja ekstra keras lagi jika benar-benar ingin kota ini masuk nominasi Adipura dan jadi rujukan sebagai kota terbersih. Hasil evaluasi tahap pertama tim penilai dari PPLH Regional Sumapapua, Kota Kendari ternyata masih berangka merah dan itu sangat tidak menyenangkan hati.

Memang, nilai yang diperoleh ada peningkatan 10 poin dari angka sebelumnya yakni 59,29 menjadi 69,75. Tapi, nilai tersebut tidak cukup mendongkrak posisi Kota Kendari dari level bahaya. Untuk mencapai nominasi Adipura, Kota Kendari dituntut mendapatkan minimal 7 poin dalam 2 minggu ke depan.

Paparan soal apa saja “kesalahan” Pemkot dan yang perlu dibenahi agar angkanya bisa naik disampaikan tim evaluasi Adipura yang dipimpin langsung Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sulawesi, Maluku dan Papua (Sumapapua), Ridwan Tamim di depan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kendari serta seluruh SKPD, lurah, camat, dan kepala sekolah se Kota Kendari, kemarin di ruang pola Kantor Wali Kota.

Usai melihat rekapan hasil penilaian Adipura tahap pertama, Wali Kota Kendari tampak kecewa. Tanpa senyum, lelaki ini terlihat serius memperhatikan item terpenting yang harus diperbaiki sebelum penilaian tahap 2 (p2) dilakukan. Wali Kota pun memberi ultimatum kepada seluruh jajaran di bawahnya dengan deadline 2 minggu setelah evaluasi.

“Saya tidak perlu bicara, semua dapat melihat hasil pemaparan tim penilai dari PPLH Regional Sumapapua. Silahkan perbaiki segala kelemahan yang masih ada, saya tidak perlu tahu itu, yang jelas, jabatan taruhannya,” kata Asrun, memberi ultimatum kepada aparatnya yang hadir di ruang pola, kemarin.

Walau kecewa, Wali Kota tetap optimis dapat meraih Adipura. Pasalnya, target yang ingin dicapai pada dasarnya adalah masuk nominasi. Namun melihat peluang yang ada, Asrun sangat percaya diri dapat menghijaukan titik pantau pada penilaian tahap dua (p2) nanti. “Saya memberikan deadline pada mereka selama 2 minggu ke depan. Penilaian Adipura tahap 2 akan dilaksanakan awal Maret 2009,” terangnya.

Dari pemaparan tim penilai Adipura, untuk komponen perumahan/pemukiman, dari 9 titik pantau, masih ada 4 lokasi yang mendapatkan angka merah yakni perumahan Bete-bete, BTN DPR, pemukiman di jalan Kancil, dan perumahan Dahlia. Begitu pula untuk komponen jalan, beberapa titik masih memprihatinkan yakni Jalan Saranani, Jalan La Ode Hadi, Jalan Kol Abd Hamid, Jalan Pasaeno dan Jalan Koni.

Penilaian Adipura yang mempunyai bobot terbesar adalah pasar. Sayangnya, 4 pasar yang menjadi titik pantau yakni Pasar Anduonuhu, Pasar Wuawua, Pasar Sentral Kota, dan Pasar Baruga semuanya mempunyai nilai yang sangat anjlok. Kondisi inilah yang membuat neraca penilaian Adipura cukup minim. Tak satupun titik yang mendapat angka hijau.

Begitu pula dengan komponen sekolah. Dari 10 sekolah yang menjadi titik pantau hanya SMPN 1 Kendari dan SMKN 3 Kendari yang mendapat rapor hijau. Sedang SDN 12 Kuncup Pertiwi, SLTPN 2, SMAN 1, SMPN 4, SDN 11 Mandonga, SMPN 9, SMPN 17 dan SMAN 5 masih terdaftar dalam garis merah. Untuk komponen pertokoan, hanya wilayah kota lama yang memperoleh angka merah.

Mengenai pelayanan kesehatan, RSUD Sultra dan Puskesmas Puuwatu memiliki nilai yang sangat rendah. Pada RSUD Sultra, pengelolaan sampah cukup memprihatinkan. Bahkan, sampah yang mengandung unsur kimia berbahaya tidak dipilah dari tempat sampah lainnya.

Ironinya, petugas rumah sakit malah membakar sembarang beberapa alat kesehatan seperti jarum suntik dan semacamanya bukan pada tempatnya. Tengok saja bagian belakang rumah sakit yang penuh dengan tumpukan sampah.

Selain itu, titik pantau yang masih mendapat angka merah yakni terminal Baruga, pelabuhan Nusantara Kendari, dan pelabuhan Ferry. Termasuk pantai wisata Nambo dan TPA Puuwatu serta pemilahan dan pengolahan sampah yang masih angka merah. Kesemuanya masih membutuhkan perhatian serius untuk mendapatkan Piala Adipura 2009.

Nilai yang diperoleh Kota Kendari pada p1, masih berada dibawah angka Kabupaten Kolaka yang telah mencapai 71,86. Pada umumnya, semua lokasi yang memperoleh angka merah ditemukan berceceran sampah, tidak ada pemilahan dan pengolahan sampah yang benar, drainase yang belum bersih, penghijauan, penataan los pedagang dan PKL, kebersihan WC dan menjaga ketersediaan air di dalam WC serta item lainnya.(cr3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s