Kalla Siap Hadapi SBY

Jakarta, KP

Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin (20/2) menyatakan siap menjadi calon presiden dari Partai Golkar. Kalla juga siap melakukan upaya apa pun untuk menantang SBY di Pemilu. Meski demikian, Kalla menjamin duet SBY-JK tidak akan pecah kongsi hingga akhir masa jabatan pada Oktober mendatang.

“Sebagai ketua umum DPP Partai Golkar, saya tidak bisa berbicara selain dari apa yang diinginkan dan telah diputuskan. Pernahkan saya tidak siap ketika sudah diputuskan dari bawah?” katanya dalam keterangan pers di Kantor Wakil Presiden kemarin (20/2). “Namanya demokrasi, apapun amanah yang diberikan dari bawah tentu akan kita laksanakan dengan baik,” sambungnya.

Untuk kali pertama, Jusuf Kalla memberikan keterangan dengan melihat catatan kecil di tangan kirinya. Selama empat tahun terakhir, Wapres selalu menggunakan metode impromtu, baik ketika berpidato maupun menjawab pertanyaan wartawan. Menurut catatan wartawan koran ini, Kalla hanya dua kali berpidato dengan membaca teks, yakni ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam penganugerahan gelar doktor honoris causa di Malaysia dan Jepang.

Meski pucuk pimpinan Golkar, Kalla menegaskan dirinya tidak punya kewenangan untuk menetapkan ketua umum secara otomatis menjadi calon presiden Partai Golkar. Golkar akan tetap menggunakan aturan main sesuai Rapimnas, yakni menjaring tujuh nama bakal capres dari seluruh DPD pada awal Maret, melakukan sigi elektibilitas dan popularitas calon-calon presiden, serta menetapkan calon presiden dalam Rapimnasus Partai Golkar 23 April mendatang.

“Sejak dulu sebenarnya Golkar pasti akan mengusung calon presiden. Siapa capresnya akan diusulkan dari bawah. Namun, seperti yang juga selalu saya bilang, secara formal Partai Golkar baru akan menetapkan calon presiden dalam Rapimnasus. Sekarang ini bahkan nama-namanya (bakal capres) baru masuk awal Maret ini,” tegasnya.

Rapimnasus digelar usai pemilu legislatif karena seluruh partai politik harus menyesuaikan diri dengan ketentuan UU Pemilu Presiden dan konstelasi politik. Saat ditanya apakah siap bertarung head to head dengan Presiden SBY bila Rapimnasus menetapkan dirinya sebagai calon presiden yang akan diusung Partai Golkar, Jusuf Kalla menjawab secara diplomatis, “sejak awal saya siap menjadi apa saja untuk kepentingan bangsa.”

Kalla mengakui, keputusan Golkar mengusung capres sendiri disebabkan kader-kader Golkar merasa harga diri partai terluka akibat komentar-komentar dan perlakuan tidak adil dari partai lain. Karena itu, DPD-DPD mendesak agar ketua umum memiliki sikap jelas soal calon presiden agar tidak dipandang remeh partai lain.

“Walaupun saya berterimakasih kepada Pak SBY atas klarifikasi Beliau, tapi (pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok) itu rupanya sangat sensitif bagi teman-teman di daerah,” katanya.

Meski Golkar akan mengusung calon presiden sendiri, Jusuf Kalla menjamin selama delapan bulan terakhir pemerintahan, duet SBY-JK akan tetap solid dan fokus menyenggarakan pemerintahan hingga Oktober mendatang. “(Penetapan capres dan pecah kongsi SBY-JK) itu dua hal yang berbeda, tidak ada hubungannya. Sampai dengan Oktober 2009 SBY-JK diangkat oleh rakyat. Jadi pemerintahan tetap akan berjalan,” tandasnya.

“(Pecah kongsi) itu tidak boleh terjadi. Lagi pula bagaimana mau pecah kongsi kalau rakyat yang mengangkat,” tambahnya.
Kalla membantah belum bertemunya presiden dan wapres sejak keberangkatannya ke luar negeri sebagai bukti perpecahan. Menurut dia, meski tidak bertemu, Presiden SBY dan dirinya selalu berkomunikasi lewat telepon.

Sebelumnya, dalam keterangan pers menjelang Rapat Koordinasi Nasional Partai Golkar, Rabu malam, Kalla menyatakan kelangsungan duet SBY-JK tidak ditentukan oleh dua pribadi, tapi oleh Partai Golkar dan Partai Demokrat. “Kalaupun sekarang ini terkesan adanya sinyal-sinyal duet itu kembali, itu sinyal untuk kepentingan bangsa dalam pemerintahan yang masih berjalan sekitar delapan bulan lagi. Sinyal untuk kepentingan bangsa itu kan baik,” katanya ketika itu.

Wapres juga membantah kabar yang beredar bahwa protokol istana telah menggunting agenda pertemuan Menlu AS Hillary Clinton dengan dirinya. Akibat pengguntingan agenda secara mendadak tersebut, Dubes AS Cameron Humme dikabarkan meminta maaf pada Kalla.

“Soal Hillary itu karena waktu kunjungannya sangat terbatas. Beliau tentu punya agenda-agenda sendiri. Lagi pula, pertemuan formal Hillary dengan Presiden dan Menlu sudah cukup untuk membina hubungan bilateral kedua negara,” katanya.

Tapi mengapa Hillary lebih memilih mengunjungi WC umum dan menjadi bintang tamu sebuah acara musik di sebuah stasiun televisi swasta? “Ah, kalau itu ketemu rakyat,” kilahnya.

Secara terpisah, dukungan kepada Kalla untuk mengajukan diri sebagai Capres datang dari sesama politisi Bugis. Ryaas Rasyid, Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) menyatakan dukungan partainya, jika Kalla sungguh-sungguh mengajukan diri sebagai capres. “JK akan saya dukung sebagai capres,” kata Ryaas, ditemui di kantor KPU, Jakarta, kemarin (20/2).

Mantan menteri negara Otonomi Daerah itu menyatakan, Kalla memiliki kualifikasi yang memadai untuk maju sendiri sebagai capres. Dari kepemimpinan, Kalla sudah memiliki track record yang diakui. Meski begitu, dukungan Ryaas kepada Kalla bukan tanpa syarat. Dia meminta agar Kalla mendapat dukungan langsung dari Golkar untuk maju sebagai capres. “Kalla harus maju melalui partai Golkar,” pinta Ryaas.

Menurut dia, dukungan langsung dari Golkar akan membuka peluang bertambahnya calon presiden. Logikanya, jika Golkar maju dengan Kalla, kemungkinan besar tidak akan bersanding dengan Demokrat, yang mengusung SBY, maupun PDIP, yang mengusung Megawati. Dengan begitu, persaingan Capres akan membuka peluang lebih dari dua pasangan calon. “Saya sendiri cukup optimis akan ada empat pasangan Capres, jika Kalla bersedia maju,” terang Ryaas.

Dalam hal ini, Ryaas juga menjagokan dua nama, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono dan Sutiyoso sebagai pendamping Kalla. Alasannya, Sri Sultan adalah kader Golar. Dia juga mewakili kalangan sipil, utamanya dari Jawa. “Jika Sutiyoso, Kalla bisa merangkul kalangan militer,” jawab dia.

Dalam hitung-hitungan politik, lanjut Ryaas, bangsa ini sudah seharusnya memiliki figur kepemimpinan yang baru. Karena Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah diketahui karakter kepemimpinannya selama ini. Figur baru, sangat mungkin akan memecah akumulasi suara dari dukungan dua nama tersebut. “Figur baru sangat penting. Apa tidak malu kalau cuma dua calon saja,” ujarnya dengan nada bertanya.

Meski secara pribadi menjagokan Kalla, Ryaas tetap akan mengkomunikasikan hal tersebut kepada internal Partai. Meski begitu, dia optimis bahwa kader PDK akan mendukung aspirasnya tersebut. “Saya juga harus tunduk kepada mekanisme partai,” terangnya. (noe/bay)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s