Aco Diancam Hukuman Mati

Tersangka Pembunuh di Lapulu Juga Diancam Hukuman Mati

Kendari, KP
Hanafing Hamzah alias Aco, terdakwa pembunuh Tasya sekitar November 2009 lalu, terancam hukuman mati. Ancaman itu terlontar dalam sidang perdana yang dipimpin Majelis Hakim Sirande Palayukan di Pengadilan Negeri Kendari, kemarin (20/4). Aco yang mengenakan baju koko putih itu, didakwa dengan pasal berlapis, yakni  Pasal 340 subsider 338, lebih subsider 351 ayat 3.Menurut Syarief SH, jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa dikenakan pasal berlapis karena diduga melakukan pembunuhan berencana (pasal 340) dengan ancaman hukuman  mati. Jika lolos dari hukuman mati, jaksa masih menyiapkan pasal pembunuhan (338) ancaman hukuman 15 tahun penjara. Jika Aco masih lolos lagi, pasal penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang (pasal 351 ayat 3) dengan ancaman hukumannya  9 tahun penjara juga telah disiapkan.
“Soal terbukti atau tidak, tergantung fakta persidangan. Kami hanya sebatas menuntut yang bersangkutan, soal diterima atau tidak, tergantung hakim yang memutuskan vonis,” beber Syarief.
Agenda persidangan baru sebatas pemeriksaan 7 saksi terkait, yakni Suharto, Adi, Sundari, Eva Susanti, Sasmitha, Wa Ode Ominu dan Kamariah. Semua saksi terkait dengan perkara, ada keluarga, tetangga atau teman terdakwa/korban.
Dalam persidangan, umumnya saksi tidak mengetahui siapa sesungguhnya Mustaming alias Aco. Suharto, saksi yang juga tempat tinggal terdakwa selama mencetak batu bata di Desa Langgea mengaku tidak menyangka bahwa Aco adalah pelaku pembunuhan sadis itu.
“Setelah penemuan jenazah Tasya, saya pernah mengatakan di depan Aco, kalau pembunuhnya berhasil ditangkap bagusnya dikutuk saja. Saat itu Aco tidak ada reaksi sedikit pun,” ungkap warga Langgea itu, saat bersaksi di hadapan majelis hakim.
Eva Susanti, juga saksi yang sekaligus tetangga korban, melihat sebelum peristiwa pembunuhan hanya melihat Tasya naik motor dibonceng seseorang yang tidak dikenalnya karena tertutup helm.
“Tasya kerja di pabrik Kepiting hanya berjalan kaki sehingga saya tidak pernah lihat digonceng motor, kecuali saat malam sebelum kejadian Tasya yang menggunakan jaket singgah ke kios beli permen,” ungkapnya.
Terdakwa Aco yang tampak tenang didampingi kuasa hukumnya, sempat angkat bicara meluruskan pernyataan salah seorang saksi.
Sementara, pengacara Aco, Cholid Tambaru SH, usai sidang mengatakan, dirinya hanya menjalankan tugas dalam membela terdakwa. Terkait dengan reaksi dari keluarga Tasya, ia kembali menjelaskan bahwa melakukan dalam melakukan pembelaan karena diminta negara.
“Saya cuma tegakkan agar bagaimana hukum itu bisa tegak. Karena terdakwa warga negara yang sama haknya di depan hukum. Jadi, perlu didampingi pengacara negara atau prodeo,” ujarnya.
Sesaat setelah persidangan ditutup majelis hakim, tiba-tiba keluarga korban yang turut menyaksikan proses persidangan berlari mendekati terdakwa Aco yang dikawal ketat aparat kepolisian. Ada yang manarik lengannya, dan ada yang mencoba memukul. Aparat kepolisian sigap dan langsung mengamankan terdakwa ke mobil tahanan  kemudian meninggalkan Pengadilan Negeri Kendari. Sidang lanjutan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa, Selasa 27 April mendatang.

Pembunuh di Lapulu Juga Hukuman Mati

Sementara itu, kasus pembunuhan terhadap Marlina, ibu muda yang ditemukan tewas di rumahnya, di Jalan Perintis Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli, Rabu (14/4) lalu kini terus dikembangkan oleh kepolisian. Tersangka pembunuhan terhadap Marlina yakni Fredi, kini terancam diganjar hukuman mati.
Pelaksana Kasat Reskrim Polresta Kendari, Iptu Setawati Bukit mengatakan, dalam proses pengembangan penyidikan terhadap kasus pembunuh Marlina akan dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 338 KUHP perbuatan menghilangkan nyawa orang, Pasal 351 ayat 1 dan 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal serta pasal 353 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan.
“Ancaman hukuman atas pasal-pasal yang dilanggar oleh Fredi yakni hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup. Kini, proses penyidikan masih dilakukan pendalaman-pendalaman untuk menggali informasi yang lebih mendetil,” terang Iptu Setawati yang juga menjabat Kaur Bin Ops Sat Reskrim Polresta Kendari, kemarin.
Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. Barang bukti yang berhasil diamankan berupa gunting yang digunakan untuk menikam korban serta pakaian tersangka yang ditanggalkan saat hendak membunuh Marlina.
Untuk diketahui, Marlina ditemukan tergelatak tak bernyawa dan bersimbah darah di rumahnya, Rabu (14/4) sekitar pukul 02.00 wita. Ia dibunuh oleh anak tiri pemilik rumah kontrakannya bernama Fredi dengan motif sakit hati. Tapi, ada kecurigaan keluarga korban jika Fredi hendak memmerkosa Marlina yang berujung pada pembunuhan.
Pengkuan Fredi, niat untuk membunuh Marlina sudah lama direncanakan. Ia rela menjual HP untuk membeli minuman agar bisa mabuk lalu membunuh Marlina. Saat eksekusi dilakukan, Fredi melepas semua pakaian yang dia gunakan, kecuali celana dalamnya, lalu masuk ke kamar Marlina untuk membunuhnya. Kini, kasus tersebut terus dikembangkan di Polresta Kendari.(rif/emi/dri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s