Hari Kartini dan Peran Perempuan Indonesia Masa Kini

Oleh : Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, MSi *)

Ketika membuka internet hari ini dan memasukkan keyword ”Hari Kartini” pada salah satu search engine, maka keluarlah hasil penelusuran sejumlah 531 000 yang topiknya mengenai berbagi hal terkait Pahlawan Emansipasi Indonesia Ibu Kartini. Mulai dari yang ’serius’, misalnya adanya acara seminar, sampai acara permainan dalam rangka merayakan kelahiran Ibu Kartini. Ini menjadi pertanda betapa besarnya perhatian masyarakat terhadap beliau. Ya, pada setiap tanggal 21 April Bangsa Indonesia merayakannya untuk mengenang jasa Ibu Kartini. Beliau adalah salah seorang pahlawan perempuan yang dimiliki Indonesia.  Ibu Kartini diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada era pemerintahan Presiden Soekarno, yang mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 pada Tanggal 2 Mei 1964 atas jasa-jasa beliau sebagai pejuang emansipasi. R.A. Kartini dilahirkan di Jepara (Jawa Tengah) pada 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun.  Beliau berkeinginan agar perempuan Indonesia memiliki hak yang sama dengan laki-laki.
Keinginan Raden Ajeng Kartini itu dituliskan dalam surat-surat yang dikirimkan pada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda, yang kemudian dibukukan dan diberi judul Door Duistermis tox Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Surat-surat tersebut menjadi bukti betapa besarnya keinginan Ibu Kartini untuk melepaskan kaum perempuan dari diskriminasi yang sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat saat itu, dimana laki-laki dan perempuan tidak memiliki hak yang sama.  Misalnya, hanya laki-laki yang boleh bersekolah sampai jenjang yang tinggi, tetapi perempuan tidak demikian, paling tinggi hanya setingkat sekolah dasar. Hal ini juga dialami Kartini, padahal beliau adalah puteri seorang bupati. Dengan fakta ini dapat dibayangkan bagaimana parahnya nasib anak-anak perempuan yang dilahirkan dari keluarga rakyat biasa.
Pada saat ini, kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki tersebut dikenal dengan istilah ‘’kesetaraan gender’’, yaitu untuk mencapai kesetaraan peran, fungsi, dan tanggung jawab dalam relasi antara laki-laki dan perempuan. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender yang dilandaskan pada Pasal 27 UUD tahun 1945. Untuk lebih memberi ketegasan pada pentingnya pengarusutamaan gender di Indonesia, pada tahun 2000 lahir Inpres No. 9 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Ini merupakan hasil nyata dari perjuangan Ibu Kartini.
Dalam pembangunan, perempuan melakukan berbagai peran penting dalam berbagai bidang kehidupan. Aktivitas perempuan dapat dibagi kedalam dua kelompok besar. Pertama, aktivitas produksi, yaitu suatu aktivitas yang menghasilkan pendapatan, baik berupa uang tunai maupun natura. Kedua adalah aktivitas reproduksi, yaitu aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk memperbaharui diri sepanjang waktu, meliputi reproduksi sosial, generasional dan reproduksi harian. Pada saat ini nampaknya ada pandangan bahwa perempuan dikatakan berperan dalam pembangunan hanya ketika aktivitas yang dilakukannya dapat menghasilkan pendapatan.  Pendapat ini tidak salah, namun tidak sepenuhnya betul. Karena memang hasil yang diperoleh dari kegiatan produksi tersebut dengan mudah dapat dinilai dan dinikmati hasilnya saat sekarang.
Peran perempun di sektor reproduksi sangatlah penting, meski sangat sulit untuk menilainya secara ekonomi. Menurut Teori Becker, bila waktu yang dimiliki perempuan diberi nilai, maka pada saat tertentu dalam siklus hidupnya, aktivitas perempuan dalam kegiatan reproduksi mempunyai nilai waktu yang sangat tinggi dibandingkan nilai waktu laki-laki, misalnya ketika anak-anak dalam keluarga masih kecil. Pada masa tersebut, nilai waktu perempuan akan sangat besar bila ia melakukan aktivitas mengasuh dan merawat anaknya, dibandingkan bila ia masuk ke pasar kerja atau sektor produksi.  Karena aktivitas pengasuhan yang dilakukan seorang perempuan sebagai Ibu dalam keluarga, akan sangat menentukan kualitas anak-anak dimasa kini dan dimasa yang akan datang.
Dalam keluarga Indonesia saat ini, Ibu masih memegang peran utama dalam menyelesaikan berbagai aktivitas reproduksi dalam rumahtangga.  Disamping terlibat langsung dalam proses penyediaan dan konsumsi pangan serta aktivitas lainnya, Ibu merupakan ’pendidik’ yang menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam hidup. Dengan didikan yang baik dalam keluarga, maka diharapkan anak-anak akan memiliki sifat-sifat dasar yang baik, misalnya memiliki rasa kasih pada sesama, rendah hati dan tidak materialistis. Anak-anak merupakan penerus generasi bangsa di masa depan, yang akan menggantikan peran generasi saat ini. Bila mereka memiliki kecerdasan dan moral yang baik, yang sangat ditentukan oleh kualitas pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan oleh seorang Ibu, maka diharapkan akan dihasilkan generasi bangsa yang berkualitas pula.  Dengan demikian, kita berharap bahwa kehidupan bangsa ini di masa yang akan datang, akan jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan saat ini.
Dengan kondisi bangsa Indonesia kini yang diwarnai oleh berbagai masalah besar, misalnya adanya kasus mafia peradilan Gayus dan terbongkarnya berbagai kasus korupsi, nampaknya bangsa ini memerlukan generasi baru yang lebih bermoral dan berhati nurani. Generasi yang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan, generasi yang tidak menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri dan keluarga.  Bangsa ini memerlukan generasi yang dapat menjadi panutan masyarakat, generasi yang berempati dan membantu rakyatnya secara nyata. Generasi yang memiliki rasa malu untuk melakukan korupsi dan sejenisnya, karena itu adalah perbuatan yang sangat hina (mencuri uang rakyat). Kita berharap akan lahir generasi yang berkeinginan dan berusaha secara riil mewujudkan pencapaian kesejahteraan untuk seluruh rakyat, tidak hanya dirasakan oleh para pejabat dan pengusaha.
Oleh karena itu, sesuai dengan semangat Kartini, peran perempuan sebagai ’pendidik’ anak bangsa sangatlah diperlukan. Peran ini tidak hanya dapat dilakukan di dalam keluarga, tetapi juga di bidang lain, sesuai dengan bidang kegiatan yang dilakoninya. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa sebagai ’pendidik’, maka perempuan harus memiliki kualitas yang baik. Untuk menjadi ’pendidik’ yang baik dan benar, maka perempuan masa kini harus membekali diri dengan’ilmu pengetahuan’ yang memadai, yang dapat diperoleh secara formal melalui bangku sekolah, maupun dari membaca, dan dari berbagai sumber informasi lainnya. Dengan demikian, perempuan akan bisa menjadi pendidik bagi bangsa ini sesuai dengan peran yang dilakukannya, baik di sektor produksi maupun di sektor reproduksi. Pentingnya pendidikan bagi perempuan ini merupakan inti dari perjuangan Ibu Kartini, yang berharap agar kaumnya memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam kesempatan menempuh pendidikan. Selamat merayakan Hari Kartini.   (**)

*) Penulis merupakan staf pengajar pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Unhalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s