Listrik Hadir di Wisata Kolo

Wangiwangi, KP
Kebutuhan listrik bagi warga Desa Wisata Kolo akhirnya dapat terpenuhi setelah sekian lama menunggu. Mesin genset berkekuatan  10 KW diberikan Pemda Wakatobi. Kepala Desa Wisata Kolo, Masruddin mengatakan, kebutuhan listrik warganya kini telah terpenuhi, setelah pihaknya menyampaikan persoalan yang menjadi kebutuhan vital mereka. ”Kebutuhan semua warga akan listrik di desa kami secara otomatis terpenuhi. Desa kami termasuk desa yang terpencil di Wakatobi, penerangan yang tidak ada selama ini, semakin membuat desa kami terpinggirkan. Namun, setelah komunikasi dengan pemerintah daerah diintensifkan persoalan kami itu tertanggulangi,” kata Kepala Desa yang belum lama dilantik itu.Saat ini lanjutnya, warga yang sudah mendaftarkan diri sudah mencapai 90 persen. Namun masih ada beberapa warga yang belum siap pemasangan instalasinya, karena masalah ekonomi. Alasannya, memasang instalasi seperti kabel harus disediakan sendiri oleh warga. “Semua persoalan di desa jika dikomunikasikan dengan baik dan dirumuskan dalam bentuk dokumen permasalahan, bisa disajikan ke setiap instansi terkait guna memenuhinya, karena sesungguhnya, keberadaan setiap instansi di pemerintahan mempunyai program yang diperuntukkan bagi masyarakat. Untuk menyambut itu, diperlukan komunikasi yang baik dan intensif,” tandasnya. (cr1/awl)

Nelayan Mola Selatan Terganggu
– Minta Solusi Alternatif Mata Pencaharian

Wangiwangi, KP
Semangat pemerintah Wakatobi untuk melestarikan lingkungan perairan harus di barengi kebijakan yang tidak mengganggu aktifitas ekonomi masyarakatnya. Sebagai contoh, aktifitas sejumlah warga yang mengandalkan mata pencahariannya dengan mencungkil batu karang untuk dijual. Aktifitas ekonomi yang bertentangan dengan pelestarian lingkungan itu harus dicarikan solusi alternatif berupa pekerjaan masyarakat yang tetap tidak terganggu kehidupan ekonominya.
Tokoh Masyarakat Desa Mola Selatan, Toto B menjelaskan, kehidupan mereka yang sebagian besar nelayan dan salah satunya memanfaatkan batu karang harus dicarikan alternatif, sehingga pihaknya tetap bertahan hidup. “Sangat ironi sekali, ada kebijakan yang melarang warga kami untuk berhenti melakukan aktifitas pencahariannya, tetapi kalau tidak ada alternatif untuk mengganti mata pencaharian sama saja membuat warga kami sengsara,” terangnya prihatin.
Lebih jauh ditegaskan, jika kebijakan itu malah akan menjadi paten, karena fokus utama pemerintah adalah mengandalkan sektor wisata yang harus didukung dengan pelestarian lingkungan. Harapannya, ketika ada kebijakan itu, harus dipikirkan juga agar masyarakat tidak dikorbankan. (cr1/awl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s