Dari Diskusi dan Peluncuran Buku “Sukses di Usia Muda” .:. Terus Gali Potensi Diri, Hentikan Mimpi Jadi PNS

PEGAWAI Negeri Sipil (PNS) menjadi impian banyak orang dengan alasan bisa terima gaji sampai mati. Namun gaji seorang PNS sangat terbatas, tidak bisa mencapai penghasilan sebagaimana layaknya seorang pengusaha.

Yusran, Makassar
ADA ajakan menarik dari Amirullah Abbas, salah seorang pembicara dalam Diskusi dan Peluncuran Buku “Sukses di Usia Muda” di Harian Fajar Makassar, Selasa, 27 April lalu. Menurutnya, seorang mahasiswa seharusnya tidak lagi melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di daerah terpencil, melainkan di perusahaan-perusahaan.

Pertimbangannya, KKN di perusahaan akan sangat banyak yang bisa dipetik, termasuk pola kepemimpinan di perusahaan bersangkutan. “Untuk mahasiswa, saya selalu camkan, jangan pernah selalu berpikir menjadi pegawai negeri, tapi jadilah wirausaha. Kenapa? Karena wirausaha kita bisa meraih penghasilan setinggi-tingginya,” ujar Ketua Kadin Kota Makassar ini.

Dia lalu menawarkan pada mahasiswa yang menjadi peserta diskusi untuk melakukan KKN di sejumlah perusahaan melalui perantaraan atau bantuan Kadin Makassar. Keuntungan yang bisa diperoleh, sebutnya, mahasiswa tidak ber-KKN semata, melainkan juga bisa mendapat insentif. “Kalau kita KKN di perusahaan, kita bisa mempelajari banyak hal, termasuk perilaku kepemimpinan seorang bos. Syukur-syukur kalau berprestasi bagus, bisa diminta tinggal bekerja,” kata Amir.

Pembicara lainnya, Amran Sulaiman menambahkan, jika negara ini hendak maju dan makmur, maka jumlah pengusahanya harus 2 persen dari jumlah penduduk. Singapura, kata Amran, memiliki 7 persen pengusaha, sedangkan Amerika 11 persen.

“Kita di Indonesia baru sekira 0,2 persen. Itu karena kita kebanyakan mengincar pekerjaan menjadi pegawai negeri,” ungkap Amran.

Wirausaha ke depan, lanjut Amran, harus selalu menciptakan value added atau nilai tambah. Dia mencontohkan, Silver Quen yang harganya belasan ribu padahal bahan bakunya maksimal Rp 1.000.
“Ini berarti nilainya naik 10 kali lipat. Contoh lainnya keripik, rata-rata dibuat dari Jawa, padahal nenek kita sebelum merdeka sudah bisa membuat keripik,” beber Amran.

Meski ajakan berwirausaha kebanyakan diarahkan ke mahasiswa, namun, tidak semua pengusaha pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Mawardi Jafar misalnya, dia mengaku memiliki pendidikan S3 (SD, SMP, SMA). Bos Mawar Advertising ini, tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku kuliah karena keterbatasan ekonomi. “Meski sekarang banyak perguruan tinggi yang menawarkan, tapi saya tidak punya banyak waktu lagi. Saya lebih memilih belajar otodidak dengan membaca buku di rumah,” ungkapnya.

Dia juga menyitir pernyataan pengusaha kakap, Bob Sadino, bahwa pendidikan yang diajarkan di bangku kuliah saat ini, seperti mengasupi makanan basi ke dalam tubuh kita, sehingga tubuh kita akan bereaksi negatif.

“Begitu pula di perguruan tinggi, ilmu yang diberikan adalah sesuatu yang basi, sehingga ketika masuk di wirausaha, tidak update lagi untuk dijadikan senjata menghadapi dunia kerja. Tapi jangan debat saya, ini pernyataan Bob Sadino, saya hanya menyampaikan,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, kalau bidang IT, mahasiswa kadang dituntut harus tahu penemu komputer, tapi tidak tahu mengaplikasikan software-nya. “Bagi saya tidak usah berlama-lama mencari penemunya, tapi bagaimana mengaplikasikan.

Ada teman saya mengatakan, di Sulsel kalau kita melempar batu pasti yang kena profesor, saking banyaknya profesor. Tapi tidak ada yang bisa seperti Pak Amran yang bisa mengaplikasikan,” ujarnya.

Sejak SMA, Mawardi mengaku sudah memutuskan untuk tidak mau kuliah, karena dirinya berpikir, kalau dia kuliah akan menghalangi kesempatan adik-adiknya untuk bersekolah. “Akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Saya jadi tukang gambar keliling, waktu itu belum ada teknologi billboard. Dulu kerjaannya masih manual, saya keliling perusahaan menawarkan keahlian saya menggunakan teknik air brush,” ungkapnya.

Krisis moneter, lanjut dia, berimbas ke karyawannya. Sampai-sampai beberapa karyawannya keluar karena dia tidak bisa membayar gaji mereka. “Akhirnya saya ketemu dengan stiker. Kalau bapak melihat penjual stiker di pinggir jalan, sayalah ketua kelasnya,” ungkapnya yang disambut tawa peserta diskusi.

Mawardi sampai memiliki produksi di Jawa Tengah. Di Bandung juga dia punya usaha t-shirt.
Dia punya tiga perusahaan skala UKM, yakni, Stiker Digital Printing, Mitra Pariwara Nusantara (Mapan) untuk menyuplai mesin berikut tinta dan perlengkapan-perlengkapannya, serta panduan bagaimana menjalankan bisnisnya. Dan yang lainnya, Daeng Indonesia yang fokus ke t-shirt, semacam Dagadu di Yogya.

Mawardi juga mengaku sependapat dengan Miswar bahwa salah satu kemampuan pengusaha adalah bagaimana memanfaatkan kondisi sekitarnya. Dia tahu ada kebutuhan ilmu pengetahuan yang perlu dimediasi. Menurutnya, fungsi pengusaha mempertemukan berbagai kepentingan.

“Mahasiswa bisa menjadi pengusaha, misalnya teman-teman Anda butuh cucian dan Anda tahu tempat mencuci yang harganya Rp 7 ribu per kilogram, Anda jemput dan minta Rp 12 ribu per kilogram.

Salah seorang peserta dari kalangan mahasiswa, Muslianti pada kesempatan tersebut sempat mempertanyakan apa yang salah dengan negara kita, sebuah negara yang kaya, namun, masyarakatnya banyak yang miskin. Pertanyaan itu dijawab Amirullah dengan menunjuk regulasi sebagai biang kerok.

Amirullah mencontohkan, Inco yang merupakan kontrak antar-negara, membuat pemerintah Sulsel tidak mendapat bagian.

“Kanada mengambil hasilnya dengan kontrak 140 tahun dan dijual ke Brasil. APBN itu dibagi berdasarkan jumlah penduduk, berarti Jawa dapat banyak. Makanya kita minta kepada pemeirntah untuk memperhatikan hal ini,” ungkap Amirullah. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s