Tajuk – Buruh di Tengah Pesta Pasar Modal

Hari Buruh Internasional yang jatuh 1 Mei 2010 sudah berlalu. Seperti peringatan tahun-tahun sebelumnya, Hari Buruh tahun ini, tampaknya, masih harus dilalui dengan suasana sendu karena prospek ketenagakerjaan masih akan terus dihantui beberapa persoalan.

Salah satu yang menonjol adalah adanya kecenderungan kian menciutnya lapangan pekerjaan karena pusat perputaran ekonomi tidak lagi di sektor riil, tetapi di sektor finansial. Jika uang mengalir ke sektor finansial, yang akan tumbuh adalah sektor nonproduktif yang penyerapan tenaga kerjanya kecil.

Peringatan Hari Buruh tahun ini berlangsung dalam suasana dinamika pasar modal yang luar biasa. Dalam beberapa hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berkali-kali mencetak rekor level tertinggi dalam sejarah pasar modal tanah air.

Sayangnya, tepuk tangan dan gelak tawa para investor saham dan manajemen perusahaan yang listing di bursa efek itu justru terdengar memilukan jika dikaitkan dengan masa depan buruh di Indonesia.

Di pasar saham, umumnya kinerja perusahaan tidak lagi dinilai dari kinerja riil perusahaan, tetapi dari nilai ekspektasi harga saham perusahaan yang diperdagangkan. Aturan yang sama berlaku dalam menilai sukses tidaknya seorang tenaga kerja yang tidak lagi dihitung seberapa laba riil yang bisa dihasilkan, tetapi seberapa mampu menciptakan kesan, sehingga harga saham di bursa kian melambung.
Meskipun tidak semua, fenomena yang dalam ekonomi beristilah ”pasar mobil bekas” (market of lemons) itu mulai terjadi di sebagian perusahaan yang listing di bursa. Meski jumlahnya minoritas, ada perusahaan yang sahamnya kinclong, namun gagal menyediakan kehidupan buruh yang layak.

Upah rendah, kondisi kerja buruk, jam kerja kelewat panjang, jaminan sosial tidak memadai, jaminan hukum tidak pasti, jaminan kesehatan dan mutu keselamatan kerja yang jauh dari kondisi ideal, dan sebagainya masih menjadi masalah yang kerap terdengar di beberapa perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan di bursa.

Sayangnya, pemerintah selaku regulator terlambat mengatasi permasalahan buruh yang semakin kompleks tersebut. Buktinya, sejauh ini belum ada perangkat aturan yang mengantisipasi perkembangan semu di pasar modal yang bisa diikuti gejala deindustrialisasi dan ujung-ujungnya berpotensi terjadi PHK besar-besaran itu.

Sudah saatnya mekanisme hubungan industrial Pancasila (HIP) yang sering mengalami kegagalan dirombak total. HIP yang menekankan hubungan kemitraan berasas kekeluargaan cenderung mengikat kesetiaan buruh dengan dalih kesetiaan pada ideologi.

Walhasil, berbagai problem yang menyangkut hak-hak kaum buruh tidak terselesaikan dengan baik. Pola hubungan buruh dan pemilik usaha yang seharusnya setara dalam format simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) terus berubah menjadi hubungan budak-majikan. Hari Buruh yang kita peringati hari ini selalu relevan untuk menjadi momentum memulai perombakan mendasar ini. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s